May 24, 2018

RENUNGAN HARIAN, (MINGGU 27 MEI 2018)

Bacaan Liturgi Minggu  27 Mei 2018
HR Tritunggal Mahakudus

 

Bacaan Pertama  Ul 4:32-34.39-40
Dalam perjalanan di padang gurun Musa berkata kepada bangsa Israel,
"Cobalah tanyakan dari ujung langit ke ujung langit, tentang zaman dahulu, sebelum engkau ada, sejak saat Allah menciptakan manusia di atas bumi, apakah pernah terjadi sesuatu yang demikian besar, atau apakah pernah terdengar sesuatu seperti ini? Pernahkah suatu bangsa mendengar suara Allah, yang bersabda dari tengah-tengah api, seperti yang kaudengar dan engkau tetap hidup? Atau pernahkah suatu Allah mencoba datang untuk mengambil baginya suatu bangsa dari tengah-tengah bangsa yang lain,
dengan cobaan, dengan tanda-tanda serta mujizat-mujizat dan peperangan, dengan tangan yang kuat dan lengan yang perkasa,
dan dengan kedahsyatan yang besar, seperti yang dilakukan Tuhan, Allahmu, bagimu di Mesir, di depan matamu? Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhanlah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain. Berpeganglah pada ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu di kemudian hari. Maka engkau akan hidup lama di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu
untuk selamanya."
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 33:4-5.6.9.18-19.20.22
Berbahagialah bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya.
*Firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
*Oleh firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya diciptakan segala tentaranya. Dia berfirman, maka semuanya jadi;
Dia memberi perintah, maka semuanya ada.
*Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takwa, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya; Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
*Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan. Dialah penolong dan perisai kita!
Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.

Bacaan Kedua  Rom 8:14-17
Saudara-saudara terkasih, semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu menerima bukan roh perbudakan
yang membuat kamu menjadi takut lagi, melainkan Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, 'Aba, ya Bapa!'
Roh itu memberi kesaksian bersama-sama roh kita, bahwa kita ini anak Allah. Dan kalau kita ini anak, berarti kita juga ahli-waris, yakni ahli-waris Allah sama seperti Kristus. Artinya, jika kita menderita bersama dengan Dia, kita juga akan dipermuliakan bersama dengan Dia.
Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil  Why 1:8
Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus,
Allah yang kini ada, yang dulu ada dan yang akan tetap ada.

Bacaan Injil  Mat 28:16-20
Sesudah Yesus bangkit dari antara orang mati, kesebelas murid berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia, mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.
Ada seorang bapak yang sudah lanjut usia. Agamanya bukan Kristiani, tetapi karena istrinya orang Katolik, dia setiap Minggu mengantar istrinya ikut perayaan Ekaristi. Bahkan dia juga aktif dalam kegiatan paroki. Pernah dia mengatakan, bahwa dia sangat menghargai segala macam hal yang baik dalam Gereja Katolik. Hanya satu yang dia belum bisa mengerti apalagi  menerima, yaitu Tri Tunggal Mahakudus. Waktu dia menyatakan itu, dalam batin saya berkata, Tri Tunggal Mahakudus memang tidak pertama tama untuk dimengerti, tetapi diimani dan dirayakan. Baru sesudah menerimanya dalam iman, kita berusaha untuk memahaminya.
Ajaran tentang Allah Tritunggal  merumuskan puncak perwahyuan bahwa Allah adalah Kasih ( Yoh 4:16) Kita sampai pada kesimpulan itu karena melihat-Nya dalam diri Yesus Kristus yang mengasihi manusia sampai sehabis habisnya (Yoh 13:1) , yang mati untuk kita , ketika kita masih berdosa (Roma 5:8)  Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita sampai kepada kesimpulan bahwa Yesus bukan sekedar manusia biasa yang rela mati untuk suatu tujuan tertentu?  Bagaimana kita sampai pada pengakuan iman bahwa Dia  adalah Anak Allah (Mrk 15:19).  Ajaran resmi Gereja menyatakan , “Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat  Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus. Roh Kudus itu senantiasa menyempurnakan iman melalui karunia karunia-Nya “ 
(DV 5)  Roh Kudus inilah yang  akan memimpin kita  kedalam seluruh kebenaran  (Yoh 16:13)  Dalam sejarah Gereja selanjutnya, iman akan Allah yang melaksanakan karya penyelamatan –Nya  dalam Kristus, oleh Roh Kudus itu dirumuskan dalam dogma mengenai Tritunggal yaitu dalam Konsili Nicea (tahun 325) dan Konsili Konstantinopel  ( tahun 381)
Kalau pada hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus , yang dirayakan bukan pertama tama rumusan dogma. Gereja mengajak kita semua untuk merayakan Allah yang adalah Kasih Mungkin lebih tepat , merayakan misteri Allah yang mengasihi kita sampai sehabis habisnya dalam rasa  syukur yang mendalam, bagaimana caranya? Dengan banyak berbuat kasih  dengan berbagai kehidupan.

Butir permenungan
Orang kalau mau berbuat tidak baik, tentu perasaan atau hatinya menjadi tidak tenang. Ketika bertindakpun harus mencari saat ketika orang lain lengah, misalnya : malam hari, penerangan tidak jelas, atau pada saat orang orang sedang istirahat. Bahkan , wajahnya kerapkali ditutupi dengan kain atau topeng supaya dirinya sulit dikenali.
Bahasa kitab Sucinya, : “ Barang siapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan perbuatannya yang jahat itu tidak tampak”  (Yoh 3:20). “Hidup dalam kegelapan” menggambarkan tindakan yang tidak baik. Hal ini sudah dikenal sejak zaman Yesus. Jadi sudah tua usianya, Dengan demikian , istilah menggelapkan uang tentu mudah dimengerti. Karena semua yang gelap memang tidak tampak dan tidak kelihatan . Dan didalam kegelapan orang akan sulit melihat apa apa. Demikian juga orang yang berbuat tidak baik, artinya berbuat “kegelapan” tentu pikirannya buntu, Namun apakah dia tidak tahu? Saya sendiri merasa hampir yakin bahwa sebenarnya tahu, namun karena enak, cepat mendapatkan yang diinginkan tanpa bersusah payah, ya akhirnya dilakukan terus. Apalagi jika keadaan menuntutnya, misalnya harus menghidupi keluarga, melunasi hutang, membayar ini itu dan sebagainya.
Dalam keadaan pikiran yang gelap, atau mata gelap, nalar atau otak kita tidak bisa memberikan pemikiran yang baik. Maka harus mencari tempat yang “terang” Bisa saja penerang kita adalah orang orang yang ada disekitar kita . Mungkin juga sahabat kita, imam, suster, dokter, psikolog, konselor, dsb. Mungkin juga penerang kita adalah Sakramen Tobat. Mau mencobanya? Masalahnya , apakah kita mau terbuka dan hidup dalam terang? Ini adalah suatu pilihan.

Doa.
Ya Tuhan yang maharahim, bimbinglah kami umat-Mu untuk mau terbuka dan hidup dalam terang sesuai dengan kehendak-Mu. Amin.


Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus,   Allah yang kini ada, yang dulu ada dan yang akan tetap ada.



0 komentar:

Post a Comment