Jamuan terakhir Jesus bersama murid - muridNya

Jesus meredakan badai

Jesus bersama Joseph dan Maria

Jesus mencintai anda semua

Jesus naik ke Surga

Showing posts with label Tahun Kerahiman. Show all posts
Showing posts with label Tahun Kerahiman. Show all posts

October 11, 2022

RENUNGAN HARIAN MINGGU 30 OKTOBER 2022

Kalender Liturgi Minggu 30 Okt 2022
Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  Keb 11:22-12:2
Tuhan, laksana sebutir debu di atas neraca, atau seperti embun pagi yang jatuh ke bumi, demikianlah seluruh jagat di hadapan-Mu. Tetapi justru karena Engkau berkuasa atas segala sesuatu, maka semua orang Kaukasihani, dan dosa manusia tidak Kauperhatikan, supaya mereka bertobat. Sebab Engkau mengasihi segala yang ada, dan tidak benci kepada barang apapun yang telah Kaubuat. Sebab andaikata sesuatu Kaubenci, niscaya tidak Kauciptakan. Bagaimana sesuatu dapat bertahan, jika tidak Kaukehendaki, atau bagaimana dapat tetap terpelihara, kalau tidak Kaupanggil? Engkau menyayangkan segala-galanya sebab semua itu milik-Mu, ya Penguasa penyayang hidup! Roh-Mu yang baka ada di dalam segala sesuatu. Dari sebab itu orang-orang yang jatuh Kauhukum berdikit-dikit. Mereka Kautegur dengan mengingatkan  dalam hal mana mereka sudah berdosa, supaya setelah menjauhi kejahatan itu mereka percaya kepada Dikau, ya Tuhan.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 145:1-2.8-9.10-11.13cd-14
Aku hendak mengagungkan Dikau selama-lamanya, ya Allah, ya Rajaku.
*Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Rajaku, aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Setiap hari aku hendak memuji Engkau  dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya.
*Tuhan itu pengasih dan penyayang,  panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Tuhan itu baik kepada semua orang, penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.
*Segala yang Kaujadikan akan bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu.
*Tuhan itu setia dalam segala perkataan-Nya, dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Tuhan itu penopang bagi semua orang yang jatuh  dan penegak bagi semua orang yang tertunduk.

Bacaan II  2Tes 1:11-2:2
Saudara-saudara, kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu. Dengan demikian nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu, dan kamu di dalam Dia, sesuai dengan kasih karunia Allah kita dan Tuhan kita Yesus Kristus. Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan berkumpulnya kita dengan Dia, kami minta kepadamu, Saudara-saudara, jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh maupun oleh kabar atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba.
Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil  Yoh 3:16
Begitu besar kasih Allah akan dunia ini,
sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya
beroleh hidup yang kekal.

Bacaan Injil  Luk 19:1-10
Sekali peristiwa  Yesus memasuki kota Yerikho dan berjalan melintasi kota itu. Di situ ada seorang kepala pemungut cukai yang amat kaya, bernama Zakheus. Ia berusaha melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab ia berbadan pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika sampai ke tempat itu, Yesus melihat ke atas dan berkata,  "Zakheus, segeralah turun! Hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya, "Ia menumpang di rumah orang berdosa!" Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan,  "Tuhan, separuh dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin, dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."  Kata Yesus kepadanya,  "Hari ini telah terjadi keselamatan atas rumah ini,  karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang  untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."
Demikianlah sabda Tuhan. 

Renungan

Kadang orang hanya ingin mencari rasa aman dan nyaman  dalam hidupnya, meskipun untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman itu orang harus menipu dirinya sendiri bahkan sampai mematikan suara hati. Sekarang inipun kita akan mudah mendapatkan orang orang seperti itu. Mereka tampak hidup walaupun sebenarnya mati , mati suara hatinya. Kompromi sering menjadi alasan bagi orang orang agar mendapatkan rasa aman dan nyaman. Namun kadang kompromi hanya merupakan bentuk lain dari sikap ragu ragu dan tidak yakin . Dalam bacaan pertama , kita dapat melihat semangat yang menjiwai jemaat di kota Sardis dan Laodikia telah menurun. Yohanes dalam surat suratnya, ingin menyapa orang orang Kristen yang ragu ragu dan kehilangan semangat. Yohanes mengajak umat Kristen untuk bertobat, berubah dari kondisi “suam suam kuku” ke  kondisi yang lebih jelas, dari kondisi ragu ragu dan tidak bersemangat ke kondisi yakin , radikal. Semua itu disampaikan Yohanes agar orang orang Kristen di Sardis dan Laodikia memperoleh keselamatan. Dalam bacaan Injil apa yang dilakukan oleh Zakeus merupakan contoh  mendapatkan rasa aman dan nyaman . Dia kaya , berlimpah harta dan dekat dengan pejabat. Untuk mendapatkan kekayaan itu , Zakeus bahkan harus mematikan suara hatinya, namun sikap seperti itu justru membuat ia dibenci rakyat kecil. Perjumpaan dengan Yesus membawa dampak yang besar bagi Zakeus.  Orang kaya yang disebut dalam salah satu perumpamaan Lukas (Luk 18:9-14) tidak mampu mengatasi kekayaan , yang justru menjadi penghalang bagi kehidupan rohaninya. Orang kaya dalam kisah ini, yaitu Zakeus , justru mampu mengatasinya dengan baik sebab ia siap membagi bagikan separuh harta kekayaannya kepada orang orang miskin dan mengembalikan empat kali lipat kepada semua orang yang telah diperasnya. Dengan demikian terpenuhilah segala syarat untuk memperoleh keselamatan . Sehingga Yesus pun menyebut dia sebagai anak Abraham. Itu berarti Zakeus juga mendapat warisan akan janji keselamatan Allah.

Butir permenungan

Seorang ibu beruntung dapat beraudensi dengan Sri Paus di Roma. Ia berkesempatan berjabat tangan dengannya, ibu tersebut begitu berbahagia. Sepulang dari pertemuan dengan Sri Paus, ia tidak mau mencuci tangan . Jangan jangan berkat dari Sri Paus ikut terbawa air saat cuci tangan itu, demikian keyakinan si ibu. Satu hal jelas dari kisah ini, pertemuan dengan orang besar dan suci seperti Sri Paus merupakan pertemuan yang sangat monumental dan membahagiakan Pada Injil hari ini, Zakheus berjumpa tidak hanya tingkat Paus, tetapi malah Yesus sendiri. Pertemuan dengan Yesus yang mau datang ke rumah Zakheus mengubah hatinya. Ia berjanji untuk memberikan hartanya kepada orang miskin . Demikian lah apabila disadari dan dihayati betul , perjumpaan dengan Yesus dapat sungguh mengubah hati orang dan membuatnya rela berbagi dan melayani dengan tulus. Bukankah setiap hari kita juga berjumpa dengan Tuhan Yesus? Dalam Ekaristi kudus kita malah menyambut Tubuh-Nya, sayangnya kita sering menganggap perayaan Ekaristi sebagai rutin saja, Akibatnya perjumpaan Tuhan dalam misa itu kurang berdampak pada perubahan hidup 

Doa

Ya Allah Bapa, semoga dengan kekuatan belas kasih-Mu, kami dimampukan untuk berbelas kasih kepada yang miskin, malang dan tersingkir. Amin.

 

 

 

 

Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya
beroleh hidup yang kekal.


 

 

January 23, 2016

WAJAH KERAHIMAN ALLAH

Wajah Kerahiman
Pada petang hari 11 April 2015, bulla (surat edaran) dari Paus Fransiskus mengenai Tahun Yubileum Agung Kerahiman yang berjudul “Misericordiae Vultus” (Wajah Kerahiman) dibacakan oleh Pastor Leonardo Sapienza, Wali Prefek Rumah Tangga Kepausan, Tahun Yubileum tersebut telah dibuka pada hari raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda ( 8 Desember 2015 lalu dan ditutup pada hari raya Kristus Raja Semesta Alam (20 Nopember 2016). Dengan perayaan ini , seluruh Gereja diharapkan  membuka pintu untuk menunjukkan Wajah Kerahiman Ilahi. Perayaan Tahun Yubileum ini merupakan saat yang tepat bagi kita untuk menjadi tanda yang lebih efektif bagi karya Bapa dalam kehidupan kita.(MV,no.3) Santa Perawan Maria dan Tuhan Yesus Kristus menjadi dua poros yang memancarkan wajah kerahiman.

Wajah Tuhan Yesus Kristus
Tuhan Yesus Kristus adalah wajah Kerahiman Allah. Allah Bapa yang kaya dengan rahmat (Ef 2:4) , setelah mewahyukan nama-Nya kepada Musa sebagai “Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya” (Kel 34:6), tidak pernah berhenti memperlihatkan keIlahian-Nya dengan berbagai cara. Setelah genap waktunya (Gal 4:4) , Dia mengutus Putra-Nya lahir dari perawan Maria untuk mewahyukan kasih-Nya secara definitif. Barang siapa telah melihat  Tuhan Yesus, ia telah melihat Bapa (Yoh 14:9) Tuhan Yesus menunjukkan kerahiman Allah dalam sabda, karya dan pribadi-nya (MV no1)
Dalam misteri Allah yang menjadi manusia dalam diri Tuhan Yesus Kristus dalam kuasa Roh Kudus, kita perlu mengkontemplasikan dengan tekun misteri kerahiman Ilahi, sumber sukacita dan ketenteraman dan kedamaian. Kerahiman adalah kata yang mewahyukan misteri Tritunggal Mahakudus. Kerahiman adalah hukum dasar yang tinggal didalam hati setiap orang, yang melihat dengan hormat mata saudara saudarinya sebagai jalan sempit kehidupan. Kerahiman adalah jembatan yang menghubungkan antara Allah dan manusia, membuka hati kita kepada suatu pengharapan untuk dicintai-Nya walau kita ini pendosa (MV no.2).

Wajah Keibuan Maria.
Sejak dosa Adam dan Hawa, Allah tidak pernah bermaksud menyerahkan manusia kepada kuasa kejahatan. Untuk itulah , Allah menjadikan Maria kudus dan tak bernoda (bdk. Ef 1:4) dan memilihnya menjadi Bunda Penebus.
Saat manusia disilaukan oleh daya  tarik dosa, Allah mengimbanginya dengan kepenuhan kerahiman  “keibuan”-Nya. Kerahiman Allah selalu lebih besar dari segala dosa, dan tidak seorangpun dapat membatasi kasih Allah yang sElalu siap mengampuni(MV.no.3) bagaikan hati seorang ibu.

Menghadirkan Wajah Kerahiman.
Bapa Suci memilih 8 Desember 2015 sebagai tanggal yang mempunyai makna yang agi sejarah Gereja. Pintu suci dibuka bertepatan dengan peringatan 50 tahun u fase baru. Gereja dipanggil untuk mewartakan Injil dengancara baru, yakni menjadi tanda kasih Allah Bapa dalam dunia(MV, no.4).
Bagaimana Gereja menghadirkan wajah kerahiman Allah bagi dunia? Gereja tidak lagi tampil sebagai lembaga kaku yang penuh kebanggaan akan kewibawaan otoritasnya, Namun Gereja hadir dengan wajah kerahiman seperti Kristus, mempelainya dan Bunda Maria. Pada pembukaan Konsili Vatikan II , St. Yohanes XXIII menyatakan  “Kini, Sang Mempelai Kristus memilih untuk menggunakan obat kerahiman daripada  senjata dan kekerasan...... Gereja Katolik dengan Konsili Ekumenis ini mengangkat tinggi lentera kebenaran kekatolikan dan ingin menunjukkan diri sebagai bunda penuh kasih bagi semua orang : dengan wajah sabar dan lembut bagai seorang ibu yang dipenuhi keprihatinan mendalam pada anak yang dipinggirkan...”  (MV. No.4)
Beato Paulus VI dalam penutupan Konsili juga berkata: “ Kita ingin memcatat bahwa kasih menjadi jiwa dasar dari Konsili ini....  Kisah tentang orang Samaria telah menjadi model spiritualitas Konsili.... Nilai nilai dunia modern tak hanya dihargai, tetapi diangkat, dibersihkan dan disucikan.... Hal hal yang harus kita tekankan adalah semua kekayaan doktrin disalurkan kesatu arah, yakni pelayanan terhadap umat manusia, dalam segala kondisi, kelemahan dan kebutuhannya”
Itulah cara yang dipilih Gereja untuk mengkontemplasikan Wajah Kerahiman Allah, dan menyatakannya kepada dunia bagai seorang ibu yang tanggap terhadap kebutuhan anak anaknya.

Disalin dari Rm. Adrian Pristio, O.Carm.




January 17, 2016

MENYAMBUT TAHUN KERAHIMAN

MENYAMBUT  TAHUN  KERAHIMAN  DENGAN  GEMBIRA

Tahun kerahiman telah dibuka pada 8 Desember 2015 lalu, Sebelumnya , Paus Fransiskus telah menerbitkan Bulla Misericordiae Vultus ( Wajah Kerahiman) pada 11 April 2015. Itu berarti tahun rahmat bagi manusia menjadi nyata. Rahmat yang menggembirakan tersebut berupa pengampunan Allah secara aktual.

Dunia dan seisinya tengah kering kerontang alias haus akan kerahiman Allah. Manusia telah kehilangan rasa kemanusiaannya. Dengan mudah kita mencatat fakta fakta yang sungguh menyayat hati. Sengaja saya tidak mengangkat kejadian kejadian miris disekitar kita, tetapi tengoklah negara negara Timur Tengah sekarang  bagaikan neraka dengan konflik yang berkepanjangan. Alih alih agama menjadi ibu yang melindungi anak anaknya , justru menjadi bamper untuk membenarkan tindakan kekerasan itu. Manusia menjadi nihil harga, orang disiksa, dipenggal, dikurung lantas dibakar hidup hidup dan digantung seperti binatang menjadi pemandangan tak berperi kemanusiaan. Adakah masa depan itu?

Banyak orang , terutama para pengungsi, makin kehilangan harapan akan masa depan. Mereka merasa lelah untuk hidup. Mereka harus lari dari ancaman maut. Apa salah mereka ? Mengapa mereka harus mengalami kehilangan hak atas hidup ditanah airnya ? Siapakah mereka seakan mempunyai mandat sebagai pencabut nyawa sesama ?

Manusia sekarang mesti sadar akan kemanusiaannya. Manusia harus kembali kepada pertanyaan dasar, “ Untuk misi apa lahir kedunia?” Allah mempunyai rencana indah dari setiap manusia. Allah ingin agar manusia menampilkan wajah-Nya, wajah penuh cinta dan kerahiman.

Paus Fransiskus secara jeli menekankan aspek ini. Pada awal Bulla Misericordiae Vultus  Paus menegaskan bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah wajah kerahiman Bapa, Rupanya Paus mau menekankan bahwa kerahiman ilahi itu kasat mata dan menjadi hidup dalam kehadiran dan karya Tuhan Yesus.

Gereja tidak boleh lupa akan hakikat dan fakta ini, Kita mau mempercayai secara baru dan membara Kerahiman Ilahi sumber perubahan hidup. Dari Kerahiman Ilahi itu mengalir sukacita, keadilan, kedamaian dan ketenangan. Tanpa adanya praktik kerahiman maka hal yang terjadi adalah khaos alias kekacauan dimana mana.

Beberapa waktu lalu saya melayani pemberkatan pernikahan di gereja. Mereka satu iman Katolik, Saya menegaskan dan memberi pesan pada pengantin baru, bahwa kesuksesan pernikahan bukanlah semata karena telah menemukan pasangan hidup tetapi karena satu sama lain berani untuk menjadi pasangan yang baik, bisa saling mengampuni.

Pasangan yang baik akan memelihara rasa syukur kepada Tuhan karena anugerah  pasangan (jodoh) yang telah diberikan-Nya. Orang perlu meyakini bahwa pasangan hidup adalah bagian dari anugerah dan rencana Tuhan. Dengan mata iman , orang dapat menerima rencana Tuhan ini. Karena itu orang yang sudah menikah apalagi yang sudah berlangsung lama dan masih meragukan dengan membatin  “ inikah orang yang Tuhan berikan padaku sebagai jodoh itu? Pertanyaan ini menurut saya sudah terlambat, karena orang yang sudah menikah tidak lagi bertanya dan menimbang nimbang , tetapi menjalani apa yang telah menjadipilihannya dengan kesetiaan sesuai dengan janji pernikahan. Anda berjanji untuk saling mencintai dalam untung dan malang, disaat suka dan duka, diwaktu sehat dan sakit, Ketika masuk saat duka, kenapa orang menjadi tidak tabah? Bukankah cinta sejati itu sabar menanggung segala sesuatu ( 1Kor13:7)?

Tidak hanya itu, pernikahan itu sukses justru ketika suami istri satu sama lain mau menjadi pasangan yang baik, Dalam pengertian sederhana: masing masing bersepakat bahkan berlomba untuk menjadi pribadi pengampun. Bukan sebaliknya, orang malah menjadi pribadi yang suka menghakimi.

Lihat saja, ketika soal remeh dikorek korek dan dibesar besarkan, maka keluarga akan terancam. Apakah perkara besar jika si istri masak terlalu asin, suami gelap mata menuduh istri apa pingin menikah lagi? Tentu ini menyakitkan, Sudah hilangkah toleransi dari kesabaran itu?

Seorang pribadi pengampun akan mendahulukan kesabaran dan kebijaksanaan daripada penghakiman yang cenderung menyakitkan. Semoga Tahun Kerahiman ini juga menjadi berkat bagi setiap keluarga dan menyambut perayaan ini dengan gembira.

Disalin dari Rm. Andreas Yudhi Wiyadi, O.Carm.



January 14, 2016

TAHUN YUBILEUM AGUNG KERAHIMAN

TAHUN  SUCI.
Bagi kita umat Katolik, tahun 2016 bukan hanya sebuah perubahan tahun setelah bersama manusia sejagat kita meninggalkan tahun 2015, tetapi merupakan juga Tahun Suci. Alasan yang mendasar adalah karena tahun 2016 telah ditetapkan oleh Paus Fransiskus sebagai Tahun Yubileum Agung Kerahiman.
Tahun Yubileum Agung Kerahiman tersebut telah dimulai pada hari raya  St. Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, 8 Desember 2015 lalu dan akan berlangsung hingga 20 November mendatang tepat pada hari raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam, Paus Paulus menjelaskan bagaimana pelaksanaannya dalam Dekrit Petunjuk resmi ( Bulla) dengan judul “ Misericordiae Vultus (Wajah Kerahiman). Bulla tersebut dibacakan oleh Pastor Leonardo Sapienza Wali Prefek Rumah Tangga Kepausan tanggal 11 April 2015, pada Vigili Minggu Kerahiman Illahi di Basilika St. Petrus , Vatikan.
Melalui Bulla tersebut , Paus Fransiskus mengajak seluruh gereja untuk merayakan Tahun Yubileum Agung Kerahiman sebagai Tahun Suci. Lebih dari 10 kali dalam Bulla ini Paus Fransiskus menyebut Tahun Yubileum Agung Kerahiman sebagai Tahun Suci. Apa artinya ini bagi kita?  Kita seolah diingatkan berulang kali akan pentingnya Tahun Suci ini , sebuah tahun rahmat Tuhan (MV, no 17), sebuah kesempatan yang amat indah dan berharga untuk merenungkan misteri kerahiman Allah. “ Kita perlu terus menerus merenungkan misteri kerahiman” tegas Paus Fransiskus (MV no.2). Selain itu , penting bahwa sepanjang Tahun Suci ini umat Katolik menyucikan diri dari segala salah dan dosa serta mengalami secara pribadi kerahiman Bapa, terutama melalui perayaan Sakramen Rekonsiliasi. “Bagi setiap peniten ( orang yang berdoa, bertobat dan mengakukan dosa dosanya) “ tegas Paus Fransiskus, Sakramen Rekonsiliasi ini akan menjadi sumber kedamaian batin yang sejati” (MV no.17)
Selamat merayakan Tahun Suci hingga anda sendiri mengalami disucikan oleh kerahiman Allah. Inilah yang dibutuhkan oleh anak anak Allah dalam peziarahan didunia ini.
Disalin dari Rm. A. Ari Pawarto, O.Carm.