Jamuan terakhir Jesus bersama murid - muridNya

Jesus meredakan badai

Jesus bersama Joseph dan Maria

Jesus mencintai anda semua

Jesus naik ke Surga

Showing posts with label Kesaksian. Show all posts
Showing posts with label Kesaksian. Show all posts

August 11, 2022

RENUNGAN HARIAN MINGGU 21 AGUSTUS 2022

Kalender Liturgi Minggu 21 Agt 2022

Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  Yes 66:18-21

Beginilah firman Tuhan, "Aku mengenal segala perbuatan dan rancangan. Aku datang untuk mengumpulkan segala bangsa dari semua bahasa, dan mereka itu akan datang serta melihat kemuliaan-Ku.  Aku akan menaruh tanda di tengah-tengah mereka, dan akan mengutus dari antara mereka orang-orang yang terluput; mereka ini akan Kuutus kepada bangsa-bangsa, yakni Tarsis, Pul dan Lud, mereka akan Kuutus ke Mesekh dan Rosy, ke Tubal dan Yawan,ke pulau-pulau yang jauh, yang belum pernah mendengar kabar tentang Aku, dan yang belum pernah melihat kemuliaan-Ku, supaya mereka memberitakan kemuliaan-Ku di antara bangsa-bangsa. Mereka itu akan membawa semua saudaramu dari segala bangsa  sebagai kurban untuk Tuhan;  mereka akan membawanya  di atas kuda dan kereta dan di atas usungan, di atas bagal dan unta betina yang cepat,  ke atas gunung-Ku yang kudus, ke Yerusalem, sama seperti orang Israel membawa kurban dalam wadah yang tahir ke dalam rumah Tuhan. Juga dari antara mereka  akan Kuambil imam-imam dan orang-orang Lewi.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan Mzm 117:1.2
Pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah Injil.
*Pujilah Tuhan, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!
*Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan Tuhan untuk selama-lamanya.

Bacaan II  Ibr 12:5-7.11-13
Saudara-saudara, Janganlah kamu lupa akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak, "Hai anakku, janganlah meremehkan didikan Tuhan,  dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan oleh-Nya;  karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,  dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." Jika kamu menerima hajaran, maka di situ Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah ada anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Namun kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.
Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil  Yoh 14:6
Akulah jalan, dan kebenaran dan hidup, sabda Tuhan. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Bacaan Injil  Luk 13:22-30

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem
Yesus berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa  sambil mengajar. Maka bertanyalah orang kepada-Nya,  "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?" Jawab Yesus kepada orang-orang di situ,  "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu!  Sebab Aku berkata kepadamu, 'Banyak orang akan berusaha untuk masuk,  tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan menutup pintu, kamu akan berdiri di luar, dan mengetuk-ngetuk pintu sambil berkata:  Tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi Ia akan berkata,  'Aku tidak tahu dari mana kamu datang. Maka kamu akan berkata, 'Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu, dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami.' Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang. Enyahlah dari hadapan-Ku,  hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! ' Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat  Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi ada di dalam Kerajaan Allah,  tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Dan orang akan datang dari Timur dan Barat,  dari Utara dan Selatan, dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah.  Dan ingatlah, ada orang yang terakhir yang akan menjadi terdahulu,  dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi terakhir." 
Demikianlah sabda Tuhan. 

Renungan.

“Aku tidak tahu dari mana kalian datang.” Itulah yang dikatakan Yesus kepada seseorang yang mau masuk dalam Kerajaan Allah , padahal orang itu telah mengatakan bahwa dirinya makan dan minum bersama Yesus dan telah menerima pengajaran dari Yesus. Namun, dua kali Yesus mengatakan bahwa Ia tidak kenal dengan orang itu. Dan Yesus menutup pintu bagi orang orang yang tidak dikenalnya. Karena itu mengenal Yesus menjadi hal yang penting bagi setiap orang yang mau masuk kedalam Kerajaan Allah. Permasalahannya sekarang adalah apa yang dimaksud dengan “mengenal” dalam konteks kisah ini ? “Mengenal” dalam konteks Kitab Suci tidak sekedar tahu atau mengenal secara intelektual . Kalau hanya soal kenal dan tahu, setanpun sering digambarkan dalam Kitab Suci jug tahu siapa Yesus. “Mengenal” disini punya arti mengimani, mengakui, dan membangun relasi dengan Yesus sampai akhirnya mengikuti. Maka, mengenal jauh lebih dalam daripada sekedar intelektual yaitu, menyangkut keterbukaan hati untuk berelasi dan mengikuti. Karena itu, mengenal Yesus berarti mengimani Dia sampai kita  menyelaraskan hidup kita sesuai dengan kehendak dan perintah-Nya. Itulah sebabnya mengenal saja tidak cukup untuk mengantar kita masuk kedalam Kerajaan Allah tanpa disertai keterbukaan hati dan perubahan sikap. Kita pantas bersyukur bahwa banyak orang yang dengan tekun mempelajari Kitab Suci agar semakin mengenal Yesus, dengan setia pula dia berdoa , berdevosi, dan beribadat untuk membangun relasi dengan Yesus sampai akhirnya dengan tangguh menjalankan perintah -Nya,  Namun, difihak lain sering kita dengar, itu pasangan suami-isteri, Suta dan Siti sudah sekian tahun menikah, ingin bercerai. Itu Suster Centilwati sudah 10 tahun menjadi biarawati, lagi goncang mau keluar. Itu romo Sibukwanto sudah hampir 9 tahun ditahbiskan, lagi krisis dan ingin keluar. Frater Gojegana sudah menjalani Tahun Pastoral, sekarang panggilannya sedang menggelepar ingin keluar.  Krisis hidup panggilan atau krisis iman bisa menerpa siapa saja, termasuk kita. Tetapi bilamana kita merenungkan kata kata Santo Paulus dalam Roma 8:26 - 30  dengan hati bening sambil berdoa didepan Salib Kristus tentulah akan lain. Kata kata Santo Paulus begitu kuat, penuh keyakinan dan kena hingga lubuk hati kita. Apa yang kita takutkan dalam hidup ini ? Konflik, ketidakcocokan, ketidaksetiaan pasangan, kesulitan ekonomi, kegagalan karya ? Itu tentu dapat menggoncangkan kita. Tetapi apakah itu sudah cukup menjadi alasan untuk memisahkan kita dengan Kristus ?  Putra-Nya saja diserahkan oleh Allah kepada kita, bagaimana Dia tidak menganugerahkan segalanya bersama anak - Nya itu kepada kita ?

Butir permenungan.

Krisis hidup iman dan panggilan senantiasa berakar pada satu titik yang paling mendasar, hubungan kita dengan Tuhan Yesus Kristus. Kesetiaan kita pada panggilan imamat, membiara, membujang demi Kerajaan Allah atau berkeluarga hanya mungkin kita bangun apabila kita tidak pernah berpisah dari kasih Kristus. Krisis hidup panggilan biasanya berhubungan dengan hal ini itu dan ketika orang begitu emosi, orang memilih meninggalkan panggilannya. Namun apabila orang yang sedang krisis itu mau menatap Salib Kristus, kasih cinta - Nya yang tidak pernah tercabutkan, betapa kita rela kalah dari himpitan kesulitan krisis itu ? Bukanlah Tuhan akan menguatkan kita dan Dia lebih dari semuanya itu ? Salib itulah sebagai motivasi bagiku. 

Doa.

Ya Tuhan yang maha baik, jangan biarkan kami umat - Mu patah semangat bila kasihku kepada sesama tidak dianggap tetapi jadikanlah pengalaman tidak dianggap itu sebagai motivasi bagiku untuk selalu berbuat kasih. Amin.

 

 

 

 

Akulah jalan, dan kebenaran dan hidup, sabda Tuhan. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

January 11, 2021

RENUNGAN HARIAN SENIN 18 JANUARI 2021

Kalender Liturgi Senin  18 Jan 2021

Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  Ibr 5:1-10
Saudara-saudara, Setiap imam Agung, yang dipilih dari antara manusia,
ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah,
supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa.
Seorang imam agung harus dapat memahami orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan. Karena itu ia harus mempersembahkan korban pelunas dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Tidak seorang pun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri!  Sebab setiap imam agung dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun. Demikian pula Kristus! Ia tidak mengangkat  diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Agung, tetapi diangkat oleh Dia yang bersabda kepada-Nya,  "Anak-Kulah Engkau. Pada hari ini engkau telah Kuperanakkan." atau di bagian lain dalam Kitab Suci Ia bersabda,   "Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut tata imamat Melkisedek."  Dalam hidup-Nya sebagai manusia,  Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan  dengan ratap tangis dan keluhan  kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut;  dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Akan tetapi sekalipun Anak, Kristus telah belajar menjadi taat; ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya!  Dan sesudah mencapai kesempurnaan,  Ia menjadi pokok keselamatan abadi  bagi semua orang yang taat kepada-Nya, dan Ia dipanggil menjadi Imam Agung oleh Allah, menurut tata imamat Melkisedek.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan Mzm 110:1.2.3.4
Engkaulah imam untuk selama-lamanya  menurut Melkisedek.
Beginilah firman Tuhan kepada tuanku,
"Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuhmu Kubuat menjadi tumpuan kakimu!"
*Tongkat kuasamu akan diulurkan Tuhan dari Sion; berkuasalah Engkau di antara musuhmu!
*Engkau meraja di atas gunung yang suci  sejak hari kelahiranmu,
sejak fajar masa mudamu.
*Tuhan telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek."

Bait Pengantar Injil  Ibr 4:12
Sabda Allah itu hidup dan kuat. Sabda itu menguji segala pikiran dan maksud hati.

Bacaan Injil  Mrk 2:18-22
Waktu itu
  murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa,  Pada suatu hari datanglah orang kepada Yesus dan berkata,  "Murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, mengapa murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka  "Dapatkah sahabat-sahabat pengantin pria berpuasa selagi pengantin itu bersama mereka? Selama pengantin itu ada bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang pengantin itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut  pada baju yang tua, karena jika demikian, kain penambal itu akan mencabiknya; yang baru mencabik yang tua, sehingga makin besarlah koyaknya. Demikian juga  tak seorang pun mengisikan anggur baru ke dalam kantong kulit yang sudah tua, karena jika demikian anggur tersebut akan mengoyakkan kantong itu, sehingga baik anggur maupun kantongnya akan terbuang. Jadi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula."
Demikianlah Injil Tuhan. 

Renungan.

Mengapa orang suka mempersoalkan tindakan Yesus dan para murid-Nya?  Mengapa tidak membiarkan saja, ketika para murid tidak berpuasa?  Bukankah setiap kelompok memiliki wilayahnya sendiri? Adakah sesuatu yang menyebabkan mereka bertanya?  Tampaknya mereka tersinggung, saat para  murid Tuhan Yesus tidak berpuasa, dan menganggapnya sebagai pelecehan budaya yang mereka anut. Tetapi , benarkah inti persoalan pada pelecehan budaya? Bukan, Persoalan intinya adalah memudarnya pengaruh. Sejak kehadiran Tuhan Yesus, pengaruh kaum Farisi memudar, Masyarakat kecil mulai tertarik dan beralih kepada Tuhan Yesus, yang mengajar dengan penuh kuasa dan wibawa serta tidak membebani pengikut-Nya. Saat popularitas Tuhan Yesus naik, maka turunlah popularitas kaum Farisi dan pemimpin agama Yahudi , inilah akar dari iri hati, yang  melahirkan berbagai sikap semu.  Hal berpuasa : mengapa Tuhan Yesus saat itu tidak menganjurkan para murid-Nya untuk berpuasa? Karena Dia, Sang Mempelai lelaki ada bersama para murid, maka suasana pesta harus berlangsung , inilah suasana Gereja Perdana. Apa yang dilakukan orang orang pada zaman Tuhan Yesus, sering juga kita lakukan, Kita iri hati, lalu mulai mempersoalkan banyak hal. Berakar dari iri hati, lahirlah beberapa ulah. Seorang ibu diserahi memasak nasi untuk pertemuan kelompok, semula dia bersedia. Tetapi menjelang pertemuan  tiba tiba membatalkan  Kesediaannya, dengan alasan anaknya akan datang dan mengajaknya berekreasi , ibu yang sama , tiba tiba membatalkan kesediaannya untuk piknik lingkungan, Sikap ini merugikan kelompok dan terutama diri sendiri, karena orang disekitarnya akan mencabut kepercayaan padanya. Iri hati karena kurang diperhatikan, membuat ibu ini berulah demi mendapat perhatian  Kita bersama diajak untuk mengenakan Tuhan Yesus dalam hati kita. Artinya , menumbuhkan kesadaran akan Tuhan, Sang Mempelai yang berdiam didalam hati, Hal ini akan membuat hidup kita bermutu, karena kita sadar akan kehadiran Sang Teman, sehingga tindakan kita dijiwai oleh-Nya. Dengan demikian, dialog batin mudah terjadi diberbagai situasi, saat berkendaraan, bepergian, memasak, atau terbaring sakit.

Butir permenungan.

Doa , derma dan puasa adalah tiga kewajiban yang sangat diperhatikan dalam  tradisi agama Yahudi .  Dan orang orang Farisi sangat taat dengan tradisi ini . Hal inilah yang membuat orang orang Farisi mengecam Yesus ketika melihat murid murid Yesus tidak berpuasa . Mereka melontarkan pertanyaan kepada Yesus :"Murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, mengapa murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka "Dapatkah sahabat-sahabat pengantin pria berpuasa selagi pengantin itu bersama mereka? Selama pengantin itu ada bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang pengantin itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Jawaban Yesus ini mau menunjukkan bahwa para murid – Nya juga berpuasa , hanya saja waktu puasa mereka berbeda dengan waktu puasa orang orang Farisi.  Yesus juga menegaskan jawaban – Nya terhadap orang Farisi dengan perumpamaan : “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut  pada baju yang tua, karena jika demikian, kain penambal itu akan mencabiknya; yang baru mencabik yang tua, sehingga makin besarlah koyaknya. Demikian juga tak seorang pun mengisikan anggur baru ke dalam kantong kulit yang sudah tua, karena jika demikian anggur tersebut akan mengoyakkan kantong itu, sehingga baik anggur maupun kantongnya akan terbuang. “ Perumpamaan ini mau mengatakan bahwa para murid Yesus berbeda dari orang orang Farisi , sebab mereka itu bagian dari umat baru yang didasarkan pada Perjanjian Baru , Dengan demikian , Yesus mau mengajarkan kepada kita bahwa dalam melakukan Doa , Derma , dan Puasa , hendaklah kita lakukan dengan ikhlas , bukan untuk dilihat oleh orang lain .Sehingga kita bisa menjadi manusia baru dengan hidup yang baru pula dalam Roh.

Doa.

Ya Tuhan , berilah kami kesadaran agar selalu ingat akan kehadiran Roh Kudus didalam hati kami, sehingga tindakan kami sesuai dengan kehendak-Mu. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

Sabda Allah itu hidup dan kuat. Sabda itu menguji 

segala pikiran dan maksud hati.

June 17, 2016

MENGUKUR KEDEWASAN ROHANI


 
Dalam kehidupan iman, sering kali kita dibingungkan oleh adanya fenomena yang kadang kala aneh tetapi nyata. Misalnya, kita melihat adanya orang Kristiani yang begitu rajin ke Gereja, rajin mengikuti pendalaman rohani atau persekutuan doa, rajin berdoa dan membaca, bahkan Gereja dan paroki menjadi rumahnya yang kedua. Namun dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan sehari-hari kurang mempunyai 'hati' terhadap sesamanya. Bahkan mereka sering dicap sebagai orang yang tidak mempunyai belas kasihan kepada sesamanya.
Sebaliknya, kita jumpai pula orang-orang Kristiani yang dalam hal menjalankan iman jarang pergi ke gereja, tidak pernah ikut kegiatan lingkungan, tidak pernah membaca alkitab dan bahkan tidak pernah berdoa sama sekali. Namun orang ini begitu baik terhadap sesamanya. Suka membantu sesama yang menderita, menolong mereka yang kesusahan dan juga terlibat aktif dalam kegiatan sosial-kemasyarakatan.
Pertanyaan kita bisa muncul, mana yang benar, mana yang tepat. Mana yang mesti kita pilih, yang pertama atau yang kedua? Saya tidak akan menjawab mana yang tepat atau mana yang benar, melainkan mau mengajak rekan-rekan untuk melihat diri kita masing-masing. Yang ingin saya angkat melihat fenomena ini adalah sejauh mana kehidupan sehari-hari saya mencerminkan pula kehidupan iman saya. Atau sejauh mana saya dewasa dalam rohani. Apakah kedewasaan rohani itu bisa diukur?. Bila bisa apa yang bisa kita gunakan untuk mengukur kedewasaan rohani. Bukankah masalah iman merupakan masalah yang sangat pribadi.
Masalah relasi antara saya dengan Allah. Lalu siapa yang bisa mengukur apakah saya sungguh beriman atau dewasa dalam menghayati iman atau belum? Yang bisa mengukur kedewasaan adalah saya pribadi. Hal ini memang benar, karena itu bukan hanya soal olah rohani belaka, tetapi juga soal perwujudan, maka kedewasaan rohani bisa diukur dari sisi motivasi, tetapi juga perwujudannya. Kita meyakini bahwa 'iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati'.
Menurut para ahli spiritualist, kita bisa mengukur kedewasaan rohani kita dari beberapa indikasi ini.
  1. Adanya keinginan kuat atau kerinduan hati yang teguh untuk menjadi 'suci' dari pada sekedar mengalami kebahagiaan sementara dalam hidup.
  2.  Mempunyai keutamaan untuk selalu berkeinginan memberi dan memberi dari pada menerima dan diberi atau bahkan menuntut.
  3. Selalu merasa mendapat kehormatan bila diberi kesempatan untuk melayani dari pada dilayani.
  4. Selalu mengalami kebahagian dalam kehidupan pribadi, baik lahir mau pun batin.
  5. Selalu merasa terberkati, selalu merasa bersyukur atas karunia yang telah diterima, dari pada selalu merasa kurang dan ingin memiliki lebih dari apa yang diperlukan.
  6. Mampu menerima segala sesuatu dengan sikap 'apa adanya' 'nrima ing pandum' dari pada mengikuti ambisi untuk memiliki segalanya dan menuntut orang lain untuk menjadi sama seperti dirinya.
  7. Selalu hidup dalam dunia kasih, segala sesuatunya diukur berdasarkan kasih.

Inilah indikasi yang bisa digunakan untuk mengukur apakah saya sudah merasa mencapai 'kedewasaan rohani', sesuai dengan iman kristiani yang saya yakini. Kasus diatas tidak akan pernah terjadi bila kita merasa yakin bahwa saya selalu berusaha berada dalam jalur tujuh indikasi ini. 
Apakah menjadi suci sungguh merupakan kerinduan setiap manusia. Apakah Allah menghendaki kita menjadi suci atau....? Jawabannya ada dalam hati kita masing-masing, tetapi bila kita kembali kepada undangan Jesus sendiri yakni "Jadilah engkau sempurna seperti Bapa sempurna adanya", maka kita akan mengangguk bahwa kesempurnaan hidup, atau kesucian adalah merupakan tujuan akhir setiap orang yang mengakui diri sebagai murid Kristus. Karena pada hakekatnya Tuhan memanggil kita untuk menjadi suci. Ukuran kesempurnaan rohani kita adalah 'untuk menjadi seperti Kristus' dalam segala aspek kehidupanNya. Semoga renungan kecil ini berguna. 
Selamat berhari Minggu.
In Christ.

Teja Anthara SCJ

May 16, 2016

BERDOA DENGAN BENAR

Berdoa dengan benar secara Katolik
Mengapa kita berdoa?
KGK 2559 “Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik”. Dari mana kita berbicara, kalau kita berdoa? Dari ketinggian kesombongan dan kehendak kita ke bawah atau “dari jurang” (Mzm 130:1) hati yang rendah dan penuh sesal? Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan (Bdk. Luk 18:9-14). Kerendahan hati adalah dasar doa, karena “kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa” (Rm 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: Di depan Allah, manusia adalah seorang pengemis.
Itulah sebuah pemahaman tentang arti doa dari ajaran Gereja Katolik. Berdoa adalah getaran hati suara nurani yang menyapa Allah. Suatu permohonan dan syukur kepada Allah. Oleh karena itu tidaklah dapat dipungkiri bahwa berdoa merupakan suatu bagian penting bagi orang beriman. Tanpa doa iman kita akan lemah tanpa daya, kering dan tidak berbobot, tapi dengan berdoa iman kita dikuatkan, diteguhkan, ditopang hingga kokoh kuat tak tergoyahkan. Maka kebiasaan berdoa bagi umat Katolik sangatlah penting mulai dari anak-anak hingga orang tua dan kakek nenek tak terkecuali wajib berdoa. Namun berdoa macam mana yang benar secara Katolik? Itulah yang menjadi pokok persoalan kita. Kemarin pada tgl 7 Desember 2010 ketika terjadi pertemuan darat tim katolisitas.org dengan para pengunjung umat katolik di Jakarta, saya menyinggung perihal berdoa secara benar dan katolik. Sudah banyak kali saya mendengarkan orang Katolik berdoa tidak sesuai dengan iman Katolik. Doanya mengambang, intensi tidak berisi dan kesulitan dalam mengakhiri doanya. Lalu bagaimana berdoa secara benar dan Katolik? Menurut pengalaman rohani dari St Theresa dari Lisieux doa adalah:
“For me, prayer is a surge of the heart; it is a simple look turned toward heaven, it is a cry of recognition and of love, embracing both trial and joy” (suatu gelora, sentakan dalam hati, sebuah penglihatan kembali untuk ke depan menuju tahta surgawi, sebuah jeritan pengetahuan akalbudi dan cinta yang memeluk keduanya dalam suatu cobaan dan sukacita (bdk. St. Therese of Lisieux, Manuscrits autobiographiques, C 25r.).
Berdoalah menurut pola ”Doa Bapa Kami”.
Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] (Matius 6:9-13).
Dalam doa Bapa Kami ada 3 pokok penting yang mendapat perhatian saat kita hendak doa:
·       Menyebut nama Allah dengan atributnya (kemahakuasaan Allah). Menyapa Allah sebagai Bapa yang sungguh dekat di hati manusia. Dia yang tidak jauh namun ada dan tinggal di anatara kita sebagai Bapa kita. Memohon datangnya kerajaan-Nya di dunia.
·       Intensi (permohonan) kita kepada Allah Bapa yakni rezeki setiap hari, kesehatan jiwa dan badan.
·       Menutup doa dengan memohon agar dikuatkan iman kita sehingga tidak jatuh dalam pencobaan.
Terakhir setiap doa yang benar dan katolik ditutup dengan rumusan panjang lengkap bersifat trinitaris Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, atau rumusan pendek kristologis, yaitu “…. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami.”
Pola doa Bapa Kami juga memberikan contoh kepada kita untuk berdoa secara benar dan sungguh Katolik (di bawah artikel ini diberikan contoh yang benar).
Sifat-sifat yang menyertai doa yang benar:
a) Berdoalah dengan tekun.
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (Matius 7:7). Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? (Lukas 18:1-7). Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama,… (Kisah Para Rasul 1:14)
b) Berdoalah secara tersembunyi dengan rendah hati.
Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Matius 6:6). Tempat tersembunyi yang dimaksudkan dalam sabda Tuhan ini adalah di dalam hati. Hati adalah tempat kita berjumpa dengan Tuhan. Kerendahan hati adalah dasar dari doa yang benar. Berdoalah dengan rendah hati dan dengan pertobatan. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” (Lukas 18:13).
c) Berdoalah dengan tidak bertele-tele.
Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan (Matius 6:7). Ia berkata kepada mereka: “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Lukas22:40).
d) Berdoalah dalam pribadi Tuhan Yesus.
Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yohanes 14:13-14). Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya (Yohanes 15:7). Berdoalah dengan iman dan keyakinan bahwa doamu sedang dikabulkan. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu (Markus.11:24).
e) Berdoalah dengan kuasa dari Roh Kudus.
”Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Lukas 11:13). ”Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.” (Lukas 24:49). ”Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah 1:8)
f) Berdoa itu mempersatukan umat beriman dengan Allah Bapa.
Hal ini ditekankan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus 3:18-21: “Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dia  yang dapt melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita. Bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun temurun sampai selama-lamanya”. Teks dari “Catechism of the Catholic Church”  (Katekismus Gereja Katolik) di bawah ini menambah pemahaman kita tentang berdoa.
“In the New Covenant, prayer is the living relationship of the children of God with their Father who is good beyond measure, with his Son Jesus Christ and with the Holy Spirit. The grace of the Kingdom is “the union of the entire holy and royal Trinity….with the whole human spirit.” Thus, the life of prayer is the habit of being in the presence of the thrice-holy God and in communion with him. This communion of life is always possible because, through Baptism, we have already been united with Christ. Prayer is Christian insofar as it is communion with Christ and extends throughout the Church, which is his Body. Its dimensions are those of Christ’s love” (CCC, 2565).
KGK 2565      Dalam Perjanjian Baru, doa adalah hubungan yang hidup anak-anak Allah dengan Bapanya yang tidak terhingga baiknya, bersama Putera-Nya Yesus Kristus dan dengan Roh Kudus. Rahmat Kerajaan Allah adalah “persatuan seluruh Tritunggal Mahakudus dengan seluruh jiwa” manusia (Gregorius dari Nasiansa, or. 16,9). Dengan demikian, kehidupan doa berarti bahwa kita selalu berada dalam hadirat Allah yang tiga kali kudus dan dalam persekutuan dengan Dia. Persekutuan hidup ini memang selalu mungkin, karena melalui Pembaptisan kita sudah menjadi satu dengan Kristus (Bdk. Rm 6:5). Doa itu Kristen, sejauh ia merupakan persekutuan dengan Kristus dan menyebar luas di dalam Gereja, Tubuh Kristus. Ia merangkum segala sesuatu, sama seperti cinta kasih Kristus (Bdk. Ef 3:18-2).

Contoh doa pribadi yang benar dan Katolik.
Allah Bapa kami yang mahabaik, kami bersyukur untuk hari baru ini yang telah Kau anugerahkan bagi kami. Engkau telah melindungi kami selama semalam yang telah berlalu dan memberikan begitu banyak rezeki hingga saat ini. Kami mohon berikanlah kami hati yang sanggup bersyukur dan hati yang selalu memberi kepada orang lain dari anugerah yang telah kami terima daripada-Mu. Semoga kami sanggup melakukan itu dengan menolong sesama yang berkekurangan. Doa ini kami sampaikan kepadamu dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami yang hidup bersama Dikau dalam persatuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin. (Penutup doa bersifat trinitaris: Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus)
Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas penyertaanmu sepanjang hari ini. Kami menyadari bahwa banyak kesalahan dan kekurangan telah kami lakukan sepanjang hari ini. Kami mohon pengampunan darimu dan berilah kami kekuatan untuk bangkit dari kesalahan kami. Semoga besok kami mampu menjadi murid-Mu yang sejati. Karena Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin. (Penutup doa bersifat kristologis di mana Kristus menjadi pengantara kita satu-satunya dan bersifat universal kepada Allah Bapa).


May 12, 2016

SYARAT UNTUK MENDAPATKAN PENGABULAN DOA

Syarat untuk doa agar terkabul

Matius 7:8
"Karena setiap orang yang meminta, menerima; dan setiap orang yang mencari, mendapat; dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan."
Mazmur 66:18
"Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar."
Markus 11:24
"Karena itu Aku berkata kepadamu: Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu diberikan, kepadamu."
Lukas 18:1b
"Harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu."

1. Harus Meminta
Setiap doa harus merupakan permintaan atau permohonan yang sesungguhnya di hadapan Allah.
Ada seorang saudara, setelah beroleh selamat ia berdoa setiap hari. Pada suatu hari, seorang saudari bertanya kepadanya, "Apakah doa-doamu pernah Allah kabulkan?" Mendengar ini, saudara itu merasa heran, sebab ia hanya tahu berdoa saja, tidak tahu bahwa doa itu dapat dikabulkan. Sejak saat itu is mulai menuntut agar doanya dikabulkan Allah. Kemudian ia menyadari, bahwa dulu doa-doanya tidak pernah Allah kabulkan, sebab doa-doanya itu sangat hampa, tanpa perasaan dan seolah-olah tidak dikabulkanpun tak mengapa. Ini seperti memohon matahari terbit esok pagi, didoakan ia terbit, tidak didoakanpun ia terbit. Saudara ini telah menjadi orang Kristen satu tahun lamanya, doanya tidak pernah Allah kabulkan. Jadi is hanya bersujud sambil mengucapkan perkataan melulu, tanpa mengutarakan apa yang dimohon. itu sesungguhnya sama dengan tidak meminta.
Tuhan berkata, "Ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." Jika Anda mengetok dinding, Tuhan mustahil membukakan dinding bagi Anda. Namun jika Anda mengetok pintu dengan sungguh-sungguh, Tuhan pasti membukakan pintu bagi Anda. Jika Anda berkata, bahwa Anda mau masuk, Tuhan pasti mengijinkan Anda masuk. Tuhan berkata pula, "Carilah, maka kamu akan mendapatkan." Misalnya, di sini ada suatu benda, di sanapun ada benda lain, yang manakah sebenarnya yang Anda ingini? Anda harus mencari benda yang tertentu, jangan yang ini boleh, yang itupun boleh. Allah ingin tahu, sebenarnya mana yang Anda ingini dan mana yang Anda minta, barulah Allah memberikannya kepada Anda. Meminta berarti menghendaki dengan tekun dan sungguh-sungguh. Jadi mencari atau mengetok pintu berarti memohon atau meminta. "Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa" (Yak. 4:2). Banyak orang memiliki perbuatan berdoa, namun tidak ada yang diminta dalam doanya.
Anda harus belajar berdoa secara khusus. Anda tahu doa Anda dikabulkan atau tidak. Jika tidak demikian, Anda akan acuh tak acuh terhadap pengabulan Allah, dan tidak dapat berdoa lagi bila menjumpai kesulitan di kemudian hari. Doa model borongan tidak akan berkhasiat pada saat ada kebutuhan yang sesungguhnya. Kalau doanya borongan, sedangkan kesulitannya khusus, mustahil dapat mengatasi kesulitan itu. Sebab itu, kita wajib berdoa dengan tekun dan khusus barulah dapat mengatasi kesulitan yang khusus pula.

2. Jangan Salah Berdoa
Kita harus berdoa di hadapan Allah, tetapi juga harus disertai syarat kedua, yakni jangan salah berdoa. "Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa" (Yak. 4:3). Doa kita kepada Allah, seharusnya dikarenakan kita benar-benar mempunyai keperluan, jangan berdoa sembarangan, yakni tanpa alasan atau di luar batas kemampuan. Jangan menuruti hawa nafsu daging dan seenaknya meminta sesuatu di luar keperluan. Jika demikian, doa kita akan sia-sia saja. Memang kadang kala Allah mengaruniakan sesuatu kepada kita “jauh lebih banyak daripada yang kita doakan dan pikirkan" (Ef. 3:20). Ini adalah masalah lain.
Salah berdoa berarti meminta sesuatu melampaui kapasitas kebutuhan Anda, atau melampaui kekurangan Anda yang sesungguhnya. Jika ada keperluan, Anda boleh berdoa kepada Allah, tetapi kalau keperluan Anda hanya sebanyak itu, Anda harus meminta sebanyak itu pula. Bila Anda meminta lebih dari yang Anda perlukan, itu berarti Anda salah berdoa. Kalau Anda mempunyai kebutuhan yang besar, Anda patut meminta kepada Allah sesuai kebutuhan tersebut. Tetapi jika keperluan Anda tidak begitu banyak, namun Anda meminta banyak, itulah salah berdoa. Anda hanya patut berdoa menurut kapasitas dan keperluan Anda. Jika Anda seenaknya meminta ini dan itu, niscayalah Anda tidak akan mendapatkan pengabulan Allah. Salah berdoa sama halnya seorang anak berumur empat tahun berkata kepada ayahnya, "Ayah, berilah aku bulan yang di langit itu." Allah tidak senang mendengar doa atau permintaan yang salah. Setiap orang Kristen harus belajar berdoa dalam lingkungannya yang wajar, jangan membuka mulut dan bersuara dengan sia-sia, yaitu berdoa di luar kebutuhan yang sesungguhnya.

3. Harus Menanggulangi Dosa
Adakalanya walaupun kita telah berdoa, juga tidak salah berdoa, namun Allah tetap tidak mengabulkan doa kita. Mengapa? Ini disebabkan ada suatu penghalang yang mendasar, yaitu ada dosa yang menyekat kita dengan Allah. "Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar" (Mzm. 66:18). Bila seseorang dalam hatinya (perhatikanlah istilah "hati" ini) memperhatikan, menyayangi, atau menyimpan dosa yang jelas dan disadarinya, niscaya doanya mustahil Tuhan kabulkan. Dosa itulah suatu rintangan besar yang menyebabkan Tuhan tidak mengabulkan doanya.
Apa artinya "ada niat jahat dalam hatiku?" Itu berarti ada suatu dosa, yang oleh hati Anda tidak rela Anda tinggalkan. Anda tahu bahwa pada diri Anda ada dosa itu, tetapi hati Anda tetap ingin menyimpannya. Anda tidak hanya mempunyai kelemahan itu dalam kelakuan lahiriah Anda, bahkan memperhatikannya dalam niat hati. Ini berbeda dengan oknum dalam Roma pasal 7, walaupun is mempunyai banyak kegagalan, tetapi hatinya membenci perbuatan-perbuatannya itu. Namun orang dalam ayat ini justru dalam hatinya memperhatikan dosa, enggan meninggalkan dosa. la tidak hanya tidak membuang dosa itu dari tingkah lakunya, hatinyapun enggan membuangnya. Karena itu, doa-doa orang sedemikian tidak mungkin Tuhan kabulkan. Satu dosa saja cukup menghalangi pengabulan doa. Maka janganlah kita menyimpan satu dosapun di dalam hati, semua dosa harus kita akui sebagai dosa, dan harus kita letakkan di bawah darah Tuhan. Tuhan bisa bersimpati atas kelemahan kita, namun Dia tidak bisa membiarkan hati kita mementingkan dosa. Sekalipun pada lahirnya Anda telah meninggalkan semua dosa, kalau hati Anda mementingkan dan memperhatikan dosa, enggan menanggalkan dosa, doa Anda akan tidak berguna. Maka sejak awal menjadi orang Kristen, Anda harus mohon Allah melindungi Anda agar Anda senantiasa suci dalam tingkah laku, tidak sampai terjerumus ke dalam dosa, juga agar hati Anda mutlak membenci segala dosa, sehingga tidak ada satupun dosa yang tersimpan dalam hati Anda. Seandainya ada dosa dalam hati Anda, doa Anda akan sia-sia, sebab Tuhan pasti tidak akan mendengarkan doa Anda.
Dalam kitab Amsal 28:13 dikatakan, "Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi." Setiap dosa harus diakui. Anda harus berkata kepada Tuhan, "Tuhan, dalam hatiku ada satu dosa yang tetap kuperhatikan dan tak bisa kutanggalkan, sekarang aku mohon Engkau mengampuni aku, akupun mau meninggalkannya, mohon Engkau menolong aku untuk meninggalkan dosa itu. Jangan biarkan dosa itu melekat pada diriku. Aku tidak menyukainya, dan aku menolaknya." Bila Anda mengaku dosa di hadapan Allah, niscaya Anda mendapat pengampunan, dan Tuhan akan melewatkan Anda. Dengan demikian barulah doa Anda bisa Allah kabulkan. Jangan sekali-kali kita mengabaikan masalah ini. Tidak berdoa, tidak mungkin mendapatkan, salah berdoa, juga tidak akan mendapatkan. Sekalipun telah berdoa dan tidak salah berdoa, bila hati kita masih menyenangi sesuatu dosa atau memperhatikan dosa, doa kita tetap tidak bisa Allah kabulkan.

4. Harus Percaya
Masih ada satu syarat lagi, yaitu harus percaya secara positif. Bila kita kurang percaya, doa kita akan tidak ada gunanya. Hal ini jelas sekali dalam lnjil Markus pasal 11, yaitu tiap doa harus beriman. Tuhan Yesus mengatakan, "Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu pasti diberikan kepadamu" (Mrk. 11:24, TI.). Ketika Anda berdoa, Anda harus percaya. Bila Anda percaya bahwa apa yang Anda doakan itu "telah" Anda terima, maka hal itu pasti Anda peroleh. Semoga setiap orang setelah percaya Tuhan satu minggu saja, sudah memahami makna kata "percaya." Firman Tuhan di sini mengatakan percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu pasti diberikan kepadamu. Bukan -- percayalah bahwa kamu "pasti akan" menerima, tetapi percayalah bahwa kamu "pasti" menerima.
Apakah yang dimaksud dengan percaya? percaya di sini tidak hanya percaya Allah dapat, Allah mau, juga percaya Allah telah bekerja, Allah telah menggenapkan. Jika Anda percaya telah mendapatkan, Anda pasti mendapatkan. Jika Allah memberi kepada Anda, dan Anda bisa percaya, serta dengan yakin tahu Allah bisa, Allah mau, Anda tentu bersyukur kepada Allah dan berkata, "Allah telah bekerja!" Banyak orang justru kabur dalam hal ini, karena itu doa mereka tidak mendapatkan jawaban, karena mereka selalu mengharapkan mendapatkan. Pengharapan mengacu kepada perkara yang akan datang, sedang percaya mengacu kepada perkara yang telah lalu. Setiap iman yang sejati selalu berkata, "Puji syukur kepada Allah, la telah menyembuhkan sakitku! Syukur kepada Allah, aku telah mendapat! Syukur kepada Allah, aku telah tahir! Syukur kepada Allah, aku telah sembuh!" Maka ketika lman kita mencapai kesempurnaan, tidak saja kita dapat berkata, Allah dapat, Allah mau, bahkan Allah telah melakukan.
Allah telah mengabulkan doa! Allah telah melaksanakannya! Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu pasti diberikan kepadamu. Sering kali iman kita adalah iman yang "akan menerima," karena itu kita selalu tidak menerima. Kita harus memiliki iman yang "telah menerima." Iman selalu membicarakan "telah", tidak membicarakan "akan." Iman bukan sugesti, melainkan karena kita telah mendapatkan firman Allah, maka kita percaya dengan pasti bahwa Allah dapat, Allah mau, dan Allah telah. Jika tidak mendapatkan firman Allah, jangan sekali-kali kita mencobai Allah dengan menyerempet bahaya rohani atau melakukan petualangan rohani. Sugesti bukan iman.
Ada dua langkah yang perlu diperhatikan oleh saudara saudari yang baru percaya dalam permulaan berdoa. pertama, berdoa dari belum ada janji sampai beroleh janji, atau berdoa dari belum memperoleh firman Allah sampai memperoleh firman Allah. Setiap doa, pada awalnya, selalu memohon kepada Allah dan terus-menerus berdoa, sekalipun memakan waktu tiga atau lima tahun lamanya, harus terus berdoa. Adakalanya doa kita baru lewat satu menit saja, sudah dikabulkan Allah, tetapi ada juga yang belum dikabulkan Allah walau telah didoakan bertahun-tahun lamanya. Inilah yang disebut periode berdoa atau memohon. Sedangkan langkah kedua dari setelah mendapatkan janji sampai terwujudnya janji itu, atau dari setelah mendapatkan firman hingga terlaksananya firman itu. Inilah periode memuji. Dalam periode memuji ini, tidak seharusnya memohon lagi, melainkan harus memuji. Jadi tahap pertama ialah berdoa, tahap kedua ialah memuji Tuhan. Kalau pada tahap pertama dari tiada firman sampai menerima firman, maka pada tahap kedua dari memiliki firman sampai memuji Tuhan dan terus memuji sampai menerima apa yang kita doakan itu. Inilah rahasia berdoa.
Mengapa harus terbagi dalam dua tahap? Sebab setelah kita berdoa dari hampa tangan sampai memperoleh iman, kalau kita mengulangi doa itu, iman kita malah akan pudar. Maka bila sudah beriman, segeralah memuji Allah. Jika kita berdoa lagi, itu akan berarti: berdoa dari beriman sampai tak beriman, akhirnya malah tidak mendapatkan sesuatu. "Akan menerima" itulah penerimaan dalam tangan, sedang "telah menerima" itulah penerimaan dalam roh. Setelah beriman, walau barangnya belum ada, kita harus mendesaknya melalui memuji, jangan mendesaknya dengan doa lagi. Karena Allah telah berfirman memberikan kepada kita, apa lagi yang perlu kita doakan? Kalau batin Anda telah yakin dengan pasti bahwa Anda "telah menerima," untuk apa Anda memohon lagi? Banyak orang Kristen mengalami hal ini, yaitu berdoa hingga beriman, kemudian tidak dapat berdoa lagi, melainkan hanya dapat berkata, "Tuhan! Terpujilah Engkau!" Demikianlah Anda pasti mendapatkan.

5. Harus Terus Berdoa
Satu butir lagi dalam hal berdoa yang harus kita perhatikan, yaitu harus dilakukan secara terus-menerus, jangan berhenti. Dalam Lukas 18:1 dikatakan, "Harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu." Ada doa yang harus dilakukan terus-menerus, sampai seolah-olah membuat Tuhan repot dan tak dapat tidak mengabulkan doa tersebut. Ini juga merupakan satu iman lagi. Tuhan berkata, "Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Luk. 18:8). Iman yang di sini walaupun tidak sama dengan yang disebut di depan, tetapi tidak bertentangan. Kalau Markus mengatakan harus berdoa sampai beroleh iman, maka di sini harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu, yaitu percaya bahwa doa kita di hadapan Allah yang tidak henti-hentinya itu pada suatu hari tak dapat tidak Allah kabulkan. Beroleh janji atau tidak, tidak kuhiraukan, pokoknya aku akan berdoa sampai Allah tak dapat tidak mengabulkannya.
Banyak orang yang doanya tidak dapat diandalkan. Mereka hanya berdoa satu hari atau dua hari, atau setelah lewat dua bulan sudah dilupakan. Bahkan ada doa yang tidak pernah diulangi untuk kedua kalinya, seolah-olah tidak pernah berdoa sama sekali. Cobalah Anda hitung, berapakah doa Anda yang Anda ulangi sampai dua kali, tiga kali, lima kali, atau sepuluh kali? Tidakkah banyak doa yang Anda sendiri telah melupakannya? Kalau demikian, mungkinkah Allah mau mengabulkannya? Kalau Anda berdoa tanpa minat, mungkinkah Allah berminat mengabulkan doa Anda? Anda sendiri telah melupakan doa Anda itu, bagaimana Allah akan mengingatnya? Sebenarnya Anda sama sekali tidak berminat. Anda harus berkemauan dengan tulus murni, baru Anda mendoakannya terus. Berdoa terus-menerus itu hanya dapat kita lakukan jika kita berada dalam kondisi terdesak, atau dalam keadaan yang sangat memerlukan, dan dalam perasaan yang sangat mengharukan. Mungkin setelah lewat sepuluh tahun Anda tetap tak melupakan: "0, Tuhan, bila Engkau tidak melakukan, aku akan mendoakannya terus."

Jika Anda ingin memohon sesuatu, Anda boleh merepotkan Allah. Jika Anda benar-benar menginginkannya, Anda harus meminta terus sampai Anda mendapatkan pengabulan dari Allah. Terus berdoa demikian sampai Allah tidak berdaya, dan tak dapat tidak mengabulkan doa Anda.

April 25, 2016

EXORCISM DALAM KRISTIANI (TRUE STORY)

Exorcism di Hari Adven Pertama – Y Dwi Harsanto Pr
Saudara-Saudari terkasih, para imam yang terhormat. Rasa hati saya masih menggelegak, bergetar, tremendum-fascinoscum oleh pengalaman pertama saya melakukan exorcisme. Pertama-tema saya mengucapkan terima kasih kepada Bruder Yohanes FC yang telah pernah memposting teks resmi mengenai doa exorcism dari Vatikan ke milist komunikasi KAS, sehingga saya yang sempat membacanya dengan sambil lalu waktu itu, toh menjadi ingat akan apa yang tertulis di postingan bruder ketika harus menghadapinya sendiri. Saya pun makin bersyukur atas rahmat Sakramen Imamat kepada Gereja, yang ternyata memang menjadi sasaran tembak utama setan namun sekaligus alasan ketakutan setan.

Kisahnya begini.
Tanggal 27 November 2010, hari Sabtu. Saya mendampingi rekoleksi OMK Stasi Tambun paroki Bekasi di Cipanas. Dewan Stasi dan Paroki turut mendampingi. Acara berlangsung bagus dan inspiratif sampai malam. Setelah acara api unggun, semua bersiap tidur. Saya masuk kamar. Baru saja jatuh tertidur, pintu diketuk. Saudari Marta dan Anton serta beberapa lain memberitahu bahwa di Cibulan, di bawah Cisarua ada sekelompok Mahasiswa KAJ dekenat timur yang sedang rekoleksi,. Mereka membutuhkan bantuan imam untuk mengobati 4 mahasiswi yang kesurupan. Satu bahkan menghilang, tak ada di villa. Romo pendamping yakni Rm Hari Sulistyo sudah pulang dan tak akan kembali lagi ke sana. Saya bayangkan, jarak antara Cipanas hingga Cibulan sekitar 15 Km. Jauh juga. Menjelang pk 23 begini pula…
Tapi baiklah kuberangkat disertai Martha dan Anton. Sambil mengemudikan stir saya mengingat kembali postingan bruder Yohanes dalam milist, apakah ciri-ciri kerasukan setan dan perbedaannya dengan yang stress berat/depresi. Jangan-jangan mereka hanya depresi saja. Biasanya perempuanlah yang suka kesurupan, dan juga perempuanlah yang dikatakan kesurupan malam ini. Sebenarnya saya orang yang skeptis dengan urusan begini. Saya datang sekedar menenangkan anak-anak itu saja. Pastoral kehadiran sajalah. Namun saya tetap mencoba mengingat kembali teks itu. Kebetulan HP BB saya hang setelah kesiram air teh di gerbong KA saat dari Jogja ke Jakarta hari Jumat dinihari kemarin. Maka, tak bisa membuka kembali teks dari milist itu. Pokoknya mengingat saja, sambil bincang-bincang dengan Anton dan Marta.
Sesampai di villa tua itu, terlihat para “pasien” sudah terlentang dan tengkurap tidur. Mereka dipisahkan di tiga tempat. Yang hilang sudah ditemukan, katanya ada di kamar atas. Dari keempat anak itu, ada satu yang kata mereka paling kuat. Pak Kiyai/dukun setempat sudah dipanggil sejak pk 19 tadi dan gagal, lalu pulang. Kata mbah dukun, jenis ini bukan yang dia ketahui. Mereka panggil pula pak Pendeta Protestan dari gereja terdekat. Kata mereka, pak pendeta menyatakan tak sanggup pula lalu pulang. Terlihat para mahasiswa masih menggenggam rosario dan berdoa bersama. Ada salib besi di tergeletak di sofa. Pasien terparah itu perempuan kecil saja. Tergolek tengkurap di sofa, ditunggui teman-temannya. Sudah tidur kata mereka. Karena kondisi sudah tenang, saya spontan memutuskan: ”Ya sudah saya kembali saja, kan anaknya sudah tidur… ” Tetapi beberapa mahasiswa minta saya melihat dulu kondisi gadis yang terparah itu. Kata mereka, tadi dia kuat sekali. Delapan orang mahasiswa lelaki yang kuat pun dia hempaskan. Rosario yang mereka kalungkan di lehernya dia putuskan dan lempar ke halaman. Anehnya, rosario itu mereka temukan telah ada di WC villa. Salib besi itu dia ludahi. Hhmm… masih dengan agak skeptis saya mendekatinya. Kata mereka, suaranya pun berubah seperti bukan suara gadis itu.
Terlihat badan gadis itu tengkurap, mata terpejam separuh. Dari situ terlihat manik matanya… lhoh.. melihat ke arah mata saya… Aneh… Saya agak tersinggung. Lha kok melirik ke saya terus. Kepalan tangannya menggenggam erat. Saya duduk di sofa yang sama, dekat punggungnya. Ia mengais punggung bawah sambil keluar bunyi desis dari mulutnya, sampai bajunya terlihat sobek sedikit. Desisnya berbunyi ”panasss” … Saya nekad… saya pegang tangannya. Ia memberontak. Saya buka genggaman tangannya, dia melawan dengan sebaliknya. Posisinya masih menelungkup. Saya ingat postingan teks dari bruder Yohanes. Ciri kerasukan setan yang membedakannya dari depresi antara lain, jika disebut nama Malaikat Agung Santo Mikael, atau nama Para Kudus, juga Bunda Maria dan Tuhan Yesus Kristus, maka tentu bereaksi keras. Agak skeptis, tetap dengan memegang erat jari-jari kaku mencekam anak itu, saya katakan dengan suara wajar namun jelas terdengar ”Keluar dari badan anak ini! Dalam nama Yesus Kristus Tuhanmu, serta Malaikat Agung Santo Mikael yang kepadanya kamu membangkang, keluarlah”. Reaksinya begitu mengejutkan kami semua, termasuk saya sendiri. Dengan gerakan cepat dan tak terpahami dari sudut mekanika badan manusia, ia berkelit langsung menatap wajahku face to face, eyes to eyes.. mendesis menatap lurus ke mata saya, matanya penuh kebencian… dia berkata: ”Jangan sebut nama itu! Itu musuh kami!”. Dia tanya : ”Apakah kamu takut, Bapa?. Saya jawab ”Kamulah yang takut!” . ”Mengapa Bapa mengusir saya? Saya juga anak Tuhan. Kalau tidak, tentu saya tidak ada!” Kujawab ”Kamu anak Tuhan yang tidak taat, sombong. Mengapa kamu memasuki anak ini” . Dia jawab: ”Tempat ini nyaman,. Saya mau pergi asalkan anak ini kubawa. Saya telah menambah penyakit pada dirinya, meremas alat cernanya, dan membunuhnya. Itu salah Bapa kalau Bapa memaksakan kehendak”. Saya jawab: ”Tak ada kompromi. Kamu tak bisa membunuh anak ini dan tak kan mampu membawa nyawanya”. Setan ini pun menantang saya, katanya, ia tidak takut pada imamNya, tidak takut pada Yesus karena dia juga mengaku sebagai anakNya, tidak takut ada Sakramen. Maka selama pk 23.45 hingga masuk hari Minggu dini hari, saya dan para mahasiswa Katolik itu bergumul. Kadang-kadang suaranya berubah menjadi lembut bak wanita cantik, kadang menjadi ganas, kadang tertawa ngikik, kadang menantang, kadang merunduk sok kalah. Kadangkala merajuk minta dikasihani. Anak itu muntah-muntah banyak kali. Kadang setan melepaskan anak itu, lalu masuk lagi. Ketika anak itu dilepas, si anak mengeluh ”Romo, saya tak kuat, badan saya dan usus serta lambung sakit semua, mau mati saja, dan takut”. Kami menguatkan agar ia berani melawan. Ternyata si anak ini juga diberitahu oleh Setan bahwa Romo akan dia bunuh jika anak itu tidak taat pada Setan. Maka si anak merasa lemah karena tak mau Romo diapa-apakan oleh Setan. Dan yang paling gila ialah, jumlahnya ketika masuk lagi makin banyak. ”Kami ini Legion”, katanya jelas sekali. Ia fasih bernahasa Inggris, dan Jawa. Hal ini terjadi ketika saya ajak dia dialog dalam bahasa Inggris dan Jawa, sekedar mengetes apakah itu benar setan atau anak itu. Saya tetap mengingat teks postingan bruder di milist itu dan makin yakin kebenaran isinya. Saya katakan padanya ”Kekuatanmu hanya seperempat, masih ada Malaikat Agung St Mikael, serta Gabriel dan Rafael.” Ia mundur, melepaskan lagi anak itu. Tiba-tiba masuk lagi, ”You are stupid, Father”, lalu menghantam saya. Ia suatu saat jatuh di salib. Ia menjerit panas. Maka para mahasiswa menempelkan salib-salib mereka. Ia teriak panas dan tersiksa. Begitulah ia pergi lagi. Namun cepat kembali lagi lebih banyak lagi. Ia mau menguras kekuatan saya. ”Sampai kapan Bapa bisa bertahan? Akan kukuras tenagamu, Bapa!”. Saya jawab ”Kekuatanku dari Allah, yang menjadikan langit dan bumi”. Kami bertempur lagi. Dia menjerit-jerit lagi. Lari lagi… Ada berita bahwa 3 mahasiswi lain sudah dilepas. Semua memang berpindah merasuki mahasiswi yang satu ini.
Ketika masuk lagi yang teraksir kali, dia memeluk saya, dan dengan seolah suara si makasiswi, dia mengendus tengkuk saya sambil berbisik, ”Aku Lucifer”. Saya ”mak prinding”, terasa bulu kuduk berdiri dan ketakutan mendera. ”Kamu takut, Romo?” katanya dengan lembut di telinga saya. ”Aku akan mengincarmu terus sampai kapanpun”. Saya bangkit keberanian. Saya teriak kepada para mahasiswa: ”Kita mendapat kehormatan, sampai Lucifer sendiri, penghulu setan, datang!” Para mahasiswa emosi, mereka berdoa makin keras. Ada pula yang teriak, ”Hancurkan saja, Sikat Romo!”. Dia berkata ”Paus Yohanes Paulus II memarahiku”. Kujawab: Tak hanya Paus Yohanes Paulus II, semua paus dan uskup, dan imam memarahimu, bahkan Tuhanmu Yesus dan malaikat Agung Mkael atasan langsungmu! Taatlah padaNya!” ”Sayalah Tuhan”, jawabnya”. Saya banting dia, dan kami berpegang tangan sambil saling lawan. ”Saya mulai keringatan dan tenaga terkuras, tetapi tetap saja saya melawannya: ”Kamu lah yang ketakutan, melihat kami semua dan Tuhanmu! Lepaskan badan anak ini, karena dia sudah terima Sakramen Ekaristi! ” Lucifer menjawab: ”Aih, itu hanya roti biasa!, dan kalian imam-imam semua bodoh!” Saya marah sekali. ”Kamu sudah melawan kuasa imamat rajawi Tuhan Yesus Kristus! Mau melawan imamatNya?” dia jawab ”Aku tak takut, Romo, pada imamatmu!”
Ketika Lucifer menantang imamat saya, saya marah. Saya minta tas saya kepada para mahasiswa. Saya lepaskan dia dulu untuk mengambil peralatan aspergil dan stola serta minyak suci, sementara dia ditahan para mahasiswa yang ”menimbunnya”: dengan doa-doa Salam Maria, bapa Kami, Aku Percaya, serta menindihnya dengan tubuh-tubuh kuat mereka. Ketika saya datang lagi, saya percikkan air suci. Ia menjerit panas, dan lari.
Saat itu, saya berpikir, dini hari begini, semua kacau jika tak diakhiri. Saya perintahkan tubuh mahasiswi ini digotong, dievakuasi. Mereka menggotongnya masuk ke mobil saya, lalu saya tancap gas dengan tujuan ke Lembah Karmel. Saya telpon Mbak Sari dan Suster Lisa PKarm. Mbak Sari dengan sigap telah meminta Satpam membuka gerbang dan pintu kapel.
Si Mahasiswi dipegangi oleh Martha, Anton dan Asrul. Ia berteriak, ”Cepat Romo, cepat… dia mengejar…” katanya panik. Kami tetap berdoa Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria. Dan tiba-tiba suara mahasiswi berubah lagi ”Haaa. Mau dibawa ke mana anak ini, Bapa? Aku telah menambah lagi penyakitnya. Aku meremas jerohannya.. Anak ini hanya sampai dini hari ini, Bapa. Bapalah yang harus tanggungjawab atas kematiannya!” ” Anak itu muntah-muntah di mobil. Anton, Asrul dan Martha tetap berdoa dengan memeganginya yang berontak. Saya katakan: ”Kamulah yang harus bertanggunghjawab. Jangan memutarbalik fakta, dasar setan alaknat! Kamu telah melecehkan Sakramen Mahakudus. Kamu kubawa ke hadapan Dia, tahu rasa kau nanti. Mau lepaskan dia sekarang, atau nanti kamu makin sengsara di hadapan Raja Semesta Alam!” Lalu dia mulai merayu lagi ”Sia-sia semua ini Bapa… Bapa besok banyak acara kan? Ditunggu banyak umat.. sudahlah Bapa kembali saja istirahat”. Saya jawab: “Acara satu-satunya imam Tuhan ialah mengenyahkan kamu ke neraka!” Di situlah selama perjalanan ia menawari saya apapun akan diberikan asalkan saya tunduk pada keinginannya. Saya debat dengan tegas bahwa dia hanya harus boleh tunduk pada Kristus! ”Sayalah tuhan, I am the Lord” katanya. Saya tertawakan dia. Dia mengancam akan menggulingkan mobil. Kujawab: Ini mobil para uskup Indonesia. Tak bakalan berhasil kau gulingkan!” Saya ingatkan akan Sto Yohanes Maria Vianney yang dia bakar tempat tidurnya gara-gara tak mampu mengalahkan imam kudus itu. Santo Yohanes Maria Vianney kumohon mendoakan aku untuk mengalahkan dia. Dia lalu merajuk lagi, ”Ah kenapa tenagaku melemah, tak sekuat tadi”. Anak-anak mahasiswa ikut menajwab ”Rasain lu” Dia mendamprat : ”Apa lo, bocah kemarin sore!” Kujawab ”Mereka bukan bocah kemarin sore. Mereka anak-anak Tuhan semesta alam”. Sepanjang jalan kami debat dengan bahasa Inggris, Jawa, dan Indonesia. Mobil bagaikan terbang… dalam setengah jam mendekati Lembah Karmel, mendekati Sakramen Mahakudus. Dia mulai menendang dan berontak lagi. ”No place for evil, you know!”, kutantang dia. ”Kenapa kau kuasai anak ini. Apa salahnya?” Di jawab, “Bukan salah anak ini, tetapi ayahnya”. Kujawab: “Ya, kutahu, berarti ayahnya mengikat perjanjian kegelapan denganmu. Nanti acara kita di rumah Tuhan hanya satu, ialah memutus perjanjian leluhur anak ini dengan Lucifer keparat ini!” Dia mengkikik mirip nenek Lampir dalam film Misteri Gunung Merapi, atau mirip kuntilanak. Dia katakan: “Bukan, bukan begitu imam bodoh. Kamu memang imam munafik dan pendosa!” Kujawab, “Aku memang pendosa, namun tidak memberontak kepada Tuhan kayak kamu!”. Dia jawab lagi “Ayahnyalah yang mempersembahkan diri padaku, Bodooh!” Kupancing dia: “Jadi, ayahnya mengikkat perjanjian denganmu bukan?” Dia jawab: “Bukan bodoh, kamu keliru imam bodoh. Ayahnya mempersembahkan diri pada Kristus. Leluhurnyalah yang mempersembahkan diri padaku”. Dia tertawa ngekek lagi. Saya juga. Jadinya kami kekek-kekekan. Dengan tegas kukatakan: “Kamu setan bodoh. Gampang dipancing ya hahaha… Maka acara kita satu-satunya di depan sakramen mahakudus nanti hanyalah memutuskan perjanjian itu dan kamu akan sengsara kekal. Go to hell! Kalau kamu ingin bahagia, ajaklah anak buahmu dan dirimu sendiri bertobat, kembali menyembah Allah yang benar! Jangan iri lagi gara-gara Putra-Nya menjadi Manusia”… Dia meradang ”I hate you.. I hate all priests of Christ…!!!” Sampai di situ saya merasa mendapatkan kekuatan dan keharuan. Saya bayangkan jajaran imam Tuhan dan uskup menguatkan batin saya. Pohon-pohon bambu Lembah Karmel sudah tampak… dia teriak lagi ”Rumah jelek! Mosok Tuhan mau tinggal di rumah jelek! Akulah tuhan” Kujawab: ”Itulah bedanya Kristus dengamu, Jelek! Dia mau merendahkan diri, sedangkan kamu malah menyombongkan diri! Rasakan akibatnya, kebencian abadi bersamamu sajalah!’ Ia merajuk lagi ”Romo, ini saya, saya sudah sadar… saya mau pulang ke Bekasi, ke Jatibening, ini mau dibawa ke mana” Kujawab ”Sadar gundulmu kuwi! Kami bawa kamu ke hadapan Sakramen Mahakudus, Raja Semesta Alam yang penuh kuasa. Hanya kepadaNya semua lidah mengaku dan segala lutut bertelut, termasuk kamu, Monyong!”.
Pak Satpam membuka gerbang. Ia mengawal kami sampai samping kapel kecil (yang sebenarnya besar sekali). Mobil berhenti di jalan menanjak samping kapel, depan wisma St Antonius. Tubuh mahasiswi itu kami bopong keluar mobil. Aneh sekali, badan kecil namun bobotnya berlipat-lipat. Dia tertawa ngikik. Mengerikan sekali. Melihat pak Satpam yang tinggi besar, dia berkata seolah suara mahasiswi itu : ”wah, ini dia bapakku”. Tapi segera dia mendesis-desis dan mengikik ketika kami bopong ke kapel, ” Kalian tak kan berhasil… tak kan berhasil kikikiiiiikkk….” Tubuh kecil namun berbobot itu kami baringkan di depan panti imam, di bawah altar, di lantai sebelum trap pertama. Jika dilihat dari ruang umat, kepalanya di sebelah kiri. Anton, Asrul dan Martha memegangi tangan dan kakinya. Saya minta pinjam korek api dari pak Satpam, saya nyalakan lilin di kanan kiri tabernakel. Pak Satpam menyalakan lampu di patung Bunda Maria. Suasana temaram dan dingin dini hari menggigit. Pukul 03.45. Saya berlutut di hadapan tabernakel. Mohon kekuatan Tuhan sendiri. Lalu saya turun, berlutut lagi di trap sebelah kiri si mahasiswi. Mengajak anak-anak mahasiswa itu berdoa. Saya berdoa: ”Tuhan Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus, dengan rendah hati kami bawa ke hadapanmu tubuh anakMu yang sedang dirasuki si jahat. Kami tidak sanggup dengan kekuatan kami sendiri. Bertindaklah Tuhan atas dia, utuslah malaekat agungMu dan balatentara sorgawi membebaskan dia. Amin”. Lalu saya menghadapi tubuh mahasiswi itu dari trap, membelakangi altar dan Sakramen Mahakudus. Dengan duduk karena lelah, saya angkat tangan kanan di atasnya dan membuat gerakan tanda salib berkat dengan berkata (saya heran mengapa saya bisa mengatakan ini) : ”Atas kuasa imamat rajawi yang diberikan Tuhan Yesus Kristus kepada GerejaNya dan kepadaku, aku melepaskan ikatan perjanjian kegelapan antara kamu dengan leluhur anak ini, Dalam Nama Bapa, dan putra dan roh Kudus, Amin”. Tubuh anak yang berbaring itu tiba-tiba terjungkit, duduk, melengos ke depan, menatap tajam ke Asrul yang memegangi kaknya, lalu menoleh menatap tajam ke kiri menatap langsung ke mata saya… sedetik kemudian terkulailah tubuh si mahasiswi ini… Si jahat sudah keluar dari tubuhnya.
Si mahasiswi ini lalu merintih : ”Romo, itu Tuhan Yesus… ooo Tuhan”, tangan kiri dan tangannya nya menggapai ke arah altar. Tapi kami bawa keluar dengan dituntun. Tapi ia melihat ke atas ”Ooo… malaikat banyak sekali… oooh.. Romo, lihat?.. Ooo… dia yang terjelek, hitam telah diborgol… dimasukkan kereta… Ooo malaekat Agung Santo Mikael… ooh.. Sampai di pintu besar, dia minta kembali ke dalam, ”Romo, teman-teman saya harus kembali… Itu Tuhan…” Dia kutuntun dengan tangannya menggapai ke arah Tabernakel…” Sampai di panti imam, di samping kanan altar ia mencium patung kaki Kristus… Lalu menuju tabernakel, memeluknya erat-erat. ”Tuhan Yesus terima kasih.. Syukur kepadamu.. ” lalu ia menangis dan di situ beberapa saat. Setelah selesai, ia ke altar Bunda Maria, ia peluk kaki patung Bunda Maria dan menangis: “Bunda, terima kasih atas doamu. Aku tak kan meninggalkan engkau dan putramu”…
Pak Satpam menyerahkan kunci wisma Antonius. Anak itu mulai mengeluh lapar dan haus. Pak Satpam menggendongnya. Kini tidak berat lagi. Dia membersihkan diri di wisma, sementara teman lain membelikan makanan dan minuman di warung yang memang agak jauh, karena dapur rumah retret belum buka. Masih pk 04.30.
Setelah makan minum, anak itu bercerita bahwa setelah makan malam, ia masuk kamar di villa. Ia melihat 2 manusia bertanduk. Ia takut lalu menceritakan ke temannya. Makhluk itu marah karena diceritakan keberadaannya ke orang. Mereka mengancam akan merasuki semua peserta Rekoleksi KMK KAJ itu. Si mahasiswi menawar, karena ketakutan serta kasihan kalau semua kesurupan, maka spontan dia persilahkan merasuki dirinya saja. Ketika di depan altar itulah, sebenarnya dia hampir saja mengikuti kehendak Lucifer untuk ikut dia. Pasalnya, Lucifer mengancam, jika tak mau ikut, maka imam itulah yang akan dibunuhnya. Karena kasihan pada romo, ia akan ikut saja. Tetapi melesat malaikat membisikinya bahwa romo itu baik-baik saja, maka lawanlah Lucifer, sementara kami akan menariknya keluar dari tubuhmu. Maka ia berani melawan, dan Lucifer ditarik oleh balatentara malaikat, diborgol lalu dimasukkan kereta untuk melesat membuang si jahat ke neraka. Setelah itu tinggal Tuhan Yesus dan bunda Maria yang memeluk dan mendukungnya. Begitulah kesaksiannya. Suatu kejadian iman melawan kuasa jahat di awal masa Adven 2010, tepat Minggu I.
Sampai Minggu sore tak habis-habis saya, Asrul, Anton, Martha membicarakan hal ini. Juga teman-teman peserta rekoleksi KMK-KAJ Dekenat Timur dan OMK Wilayah Mikael Malaikat Agung dan St Andreas. Semua membuahkan satu kenyataan: bahwa iman lebih kuat daripada kebencian, apalagi setan. Saya sendiri merasa dikuatkan dalam iman dan imamat saya, dan disadarkan akan kelemahan diri serta pertobatan. Makin yakin bahwa alam maut tak kan menguasai Gereja sampai kapanpun sesuai janji Tuhan. Amin. Terima kasih telah membaca sharing ini. Semoga berguna bagi iman harapan dan kasih para pembaca kepada Allah pencipta langit dan bumi. Salam saya. Yohanes Dwi Harsanto Pr.