June 20, 2018

RENUNGAN HARIAN, (KAMIS 28 JUNI 2018)

Bacaan Liturgi Kamis 28 Juni 2018
PW S. Ireneus, Uskup dan Martir

Bacaan Pertama  2Raj 24:8-17
Yoyakhin berumur delapan belas tahun pada waktu ia menjadi raja,
dan tiga bulan lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Nehusta, puteri Elnatan, dari Yerusalem. Yoyakhin melakukan yang jahat di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan ayahnya. Pada waktu itu majulah tentara Nebukadnezar, raja Babel, menyerang Yerusalem, dan kota itu terkepung. Nebukadnezar sendiri datang menyerang
sementara orang-orangnya mengepung kota itu. Lalu keluarlah Yoyakhin, raja Yehuda, mendapatkan raja Babel: ia sendiri, ibunya, perwira-perwiranya, para pembesar dan pegawai-pegawai istananya.
Raja Babel menangkap Yoyakhin pada tahun yang kedelapan pemerintahannya. Seluruh isi rumah Tuhan dan isi istana raja dikeluarkannya; dikeratnya pula emas dari segala perkakas emas
yang dibuat oleh Salomo, raja Israel, di bait Tuhan seperti yang telah disabdakan Tuhan. Seluruh penduduk Yerusalem diangkutnya ke pembuangan; semua panglima dan semua pahlawan yang gagah perkasa: sepuluh ribu tawanan; juga semua tukang dan pandai besi.
Tidak ada yang ditinggalkan kecuali orang-orang lemah dari rakyat negeri. Nebukadnezar mengangkut Yoyakhin ke pembuangan di Babel;
juga ibunda raja, isteri-isteri raja, pegawai-pegawai istananya, dan orang-orang berkuasa di negeri itu dibawanya sebagai orang buangan dari Yerusalem ke Babel. Semua orang yang gagah perkasa, tujuh ribu orang banyaknya, para tukang dan para pandai besi, seribu orang banyaknya, sekalian pahlawan yang sanggup berperang, dibawa oleh raja Babel sebagai orang buangan ke Babel. Kemudian raja Babel mengangkat paman Yoyakhin, yang bernama Matanya, menjadi raja menggantikan Yoyakhin, dan menukar namanya menjadi Zedekia.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur  Mzm 79:1-2.3-5.8.9
Demi kemuliaan nama-Mu, ya Tuhan, bebaskanlah kami.
*Ya Allah, bangsa-bangsa lain telah masuk ke tanah milik-Mu,
menajiskan bait kudus-Mu, dan membuat Yerusalem menjadi timbunan puing. Mereka memberikan mayat hamba-hamba-Mu kepada burung-burung di udara untuk dimakan; daging orang-orang yang Kaukasihi
mereka berikan kepada binatang-binatang liar di bumi.
*Mereka menumpahkan darah orang-orang itu seperti air sekeliling Yerusalem, dan tidak ada yang menguburkan. Kami menjadi celaan tetangga, olok-olok dan cemooh orang sekitar. Berapa lama lagi, ya Tuhan, Engkau murka terus-menerus? Berapa lama lagi cemburu-Mu berkobar-kobar seperti api?
*Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang!
Kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami. Demi kemuliaan nama-Mu, tolonglah kami, ya Allah penyelamat! Lepaskanlah kami, dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!

Bacaan Injil Mat 7:21-29
Dalam khotbah di bukit Yesus berkata, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, 'Tuhan, Tuhan!' akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga.
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku, 'Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Pada waktu itu Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata,
'Aku tidak pernah mengenal kalian! Enyahlah daripada-Ku, kalian semua pembuat kejahatan!'" Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas wadas. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas wadas. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu, dan hebatlah kerusakannya." Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya,
sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, bukan seperti ahli-ahli Taurat mereka.
Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan.
Barangkali kita ini setiap hari sudah berdoa. Barangkali kita ini setiap hari sudah membaca Kitab Suci, barangkali kita ini setiap hari sudah berbuat amal. Barangkali kita ini setiap hari sudah aktif dilingkungan Gereja dan masyarakat. Barangkali kita ini sudah menyebut nama Tuhan ribuan kali. Barangkali kita ini selalu menangis setiap kali berdoa.Barangkali kita ini sudah disebut orang saleh, orang suci oleh orang orang sekitar kita. Tetapi barangkali pula kita akan terkejut seandainya nanti Tuhan  Yesus berkata seperti dalam Injil  hari ini “ Aku tidak pernah mengenal kamu, Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat  kejahatan” Kita akan bertanya “Mengapa Tuhan , aku Engkau usir?”
Jawaban Tuhan terungkap dalam Sabda-Nya mengenai dua macam dasar yang mengakhiri seluruh khotbah Yesus dibukit hari hari ini. Orang yang berseru seru dan omong omong tentang Tuhan terus tetapi tidak melakukan dalam kehidupan nyata  adalah orang yang membangun rumah diatas pasir. Rumah itu pasti roboh. Tuhan lebih menghendaki orang orang yang tidak hanya mendengarkan sabda Tuhan dan menyebut nyebut nama-Nya saja, tetapi terutama melaksanakan Sabda itu dalam kehidupan nyata, dalam pergaulan dengan sesama dan masyarakat. Itulah seumpama orang yang membangun rumah diatas batu. Rumah itu kuat dan teguh.
Godaan dan cobaan selalu menghadang, namun kita harus menghadapinya dengan bijaksana, yang didasari oleh kekuatan yang melebihi segalanya yaitu kekuatan dari Tuhan kita Yesus Kristus,  Dengan bersikap tegas pada diri sendiri, mau menerima realita yang ada, mau bersyukur atas segala karunia yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, tentu akan membawa kebahagiaan sejati yang dapat kita cicipi dalam menjalani kehidupan didunia ini, maupun kelak disurga. Untuk bersikap bijaksana diperlukan pertobatan terus menerus, kesabaran dalam menjalani kehidupan ini, dan selalu mohon rahmat dari Tuhan. Dengan begitu kita tidak akan putus asa dalam mengikuti jejak Kristus,
Pada tahun yang penuh rahmat, Paus Fransiskus mengajak kita untuk kembali kepada Tuhan melalui Sakramen Rekonsiliasi  agar dapat menghadapi kehidupan ini dengan aneka masalah yang ada dengan tetap teguh dalam iman , harapan dan kasih kepada-Nya.

Butir permenungan.
Mari kita mohon rahmat kekuatan dari Allah yang mahakuat agar mampu mengimani Yesus yang menjadi dasar kokoh dalam membangun hidup rohani kita . Dengan cara demikian, hidup kita akan lebih berkenan dihadapan-Nya , apapun pilihan hidup kita, yang sudah kita hayati selama ini. Selain itu , kita mampu membantu sesama kita yang membutuhkan pertolongan baik dalam hal jasmani maupun  rohani dengan kuasa kasih-Nya.

Doa.
Ya Tuhan Yesus semoga umat-Mu bisa mendengarkan Sabda-Mu dan bisa melaksanakan dalam kehidupan sehari hari dengan baik. Oleh sebab itu tuntunlah kami umat-Mu dengan Roh Kebijaksanaan-Mu   Amin.




Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, 'Tuhan, Tuhan!' akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga.

0 komentar:

Post a Comment