May 28, 2020

*Homili Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC* Misa Peringatan Wajib St. Filipus Neri 26 Mei 2020

Misa Peringatan Wajib St. Filipus Neri 26 Mei 2020
Saudara saudari yang terkasih, ada orang bertanya dan saat dijawab dengan nasehat untuk hidup lebih baik, ia tidak berubah. Ia mengajukan pertanyaan informatif atau bahkan defensif bukan transformatif, pertanyaan untuk mencari informasi bahkan untuk membela diri, bukan untuk berbenah diri. Orang mau tahu pendapat orang bijaksana, tetapi tidak mau berubah. Itulah orang yang bertanya kepada Yesus, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup kekal?” Waktu  diberi nasehat oleh Yesus, “juallah segala milikmu dan ikutilah Aku!” Ia kecewa dan pergi dengan sedih, karena jawabanNya tidak sesuai dengan harapan. Rupanya ia bertanya bukan untuk mendengarkan nasehat agar bertobat, tetapi untuk membenarkan diri.
Santo Santa selalu mendengarkan nasehat Tuhan dan hidup sesuai dengan jalan Tuhan. Santo Filipus Neri yang kita peringati hari ini, dikenal dengan nasehat-nasehat transformatif hingga banyak orang datang kepadanya, termasuk para Kardinal, mengaku dosa kepadanya dan mendengarkan nasehat dan bimbingannya, pada abad ke 16 di Roma.
Pada suatu hari ada seorang Ibu datang kepadanya, dan ia kenal betul. Ia sebetulnya bisa mengetahui rahasia orang, mendapat mukjizat itu, Roh Pengetahuan, Karunia Pengetahuan. Waktu datang, ia berkata kepada Ibu itu,
“Bu, maukah menolong saya?” Mendengar kata-kata itu, Ibu itu senang sekali, karena bisa membantu Filipus Neri. Lalu ia berkata,
“tolong belikan ayam di pasar. Nanti setelah ayam itu dipotong di pasar, bawa pulang ayam itu, dalam perjalanan pulang, tolong lepaskanlah bulunya satu per satu di jalan, sehingga ketika sampai ke tempat ini, ke pastoran ini, ayam itu sudah tanpa bulu” Lalu ia dengan senang hati pergi. Lalu ia membeli dan mencabut, sampailah Ibu itu membawa ayam yang sudah botak, yang sudah tanpa bulu, yang siap dibumbui, siap dimasak. Lalu Filipus Neri berkata, “sekarang Ibu kembali lagi ke jalan tadi, ambillah bulu-bulu yang sudah dicopotkan itu dan tempelkan kembali kepada ayam itu”.
Ibu itu berkata,
“Pastor, tidak mungkin, bulu-bulu yang sudah beterbangan ke sana ke mari, saya cabuti dan kumpulkan kembali”. Lalu Filipus Neri karena tahu Ibu itu suka gosip, suka menjelekkan orang lain, ia berkata, “demikianlah Bu, apa yang Ibu katakan dalam gosip, apa yang ibu katakan kejelekan orang lain, sudah menyebar ke sana ke mari oleh orang-orang yang Ibu ceritakan, dan tidak mungkin dikumpulkan kembali”.
Saudara saudari yang terkasih, Yesus berdoa kepada Bapa tentang dan untuk murid - muridNya. Ia bersyukur karena para murid mendengarkan nasihatNya. Mereka sudah mengalami fine tuning kemarin, menyamakan gelombang, sehingga mudah untuk melakukan live tuning, menyamakan gelombang hidupnya. Sehingga hidupnya itu sama dengan hidup yang dilakukan oleh Yesus. “Mereka itu milikMu dan Engkau telah memberikan mereka kepadaKu dan mereka telah menuruti firmanMu”. Yesus mendengarkan firman Allah dan menyampaikannya kepada para murid yang juga menerimanya. Maka para murid sekarang itu tahu, apa yang Yesus kehendaki dan Bapa maui dan menuruti apa yang Yesus maui.
Paulus selalu mengikuti nasihat Roh Kudus, ia mengungkapkannya dengan istilah “sebagai tawaran Roh”, tanpa protes, tanpa banyak tanya. Kemanapun Roh Kudus menasehati, diapun segera pergi, “… aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan diriku di Yerusalem selain daripada apa yang dinyatakan oleh Roh Kudus, dinasehatkan oleh Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku”. Walau beresiko hilang nyawa, ia ingin menyelesaikan apa yang dinasehatkan Tuhan, karena yakin jalan Tuhanlah yang akan menyelamatkan.
Saudara saudari yang terkasih, .kalau kecewa kadang kita protes kepada Tuhan, “mengapa begini dan begitu, seharusnya kan Engkau begini dan begitu kepadaku”. Kita tak sadar memberi nasehat kepada Tuhan, seolah Ia itu tidak Maha Tahu. Ia adalah penasehat ulung seperti yang ditulis oleh Yesaya (40:13-14) “Siapakah yang dapat mengatur Roh Tuhan atau memberi petunjuk kepadaNya sebagai penasehat? Kepada siapa Tuhan meminta nasehat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar Tuhan untuk menjalankan keadilan, atau siapa yang mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan  pengertian?” Manusialah seharusnya meminta nasehat pada Tuhan, Karunia Roh Nasehat membuat kita mau dan mampu dipimpin Allah menapaki jalan keselamatan. Roh ini membimbing kita dalam hal-hal praktis agar kita tidak tersesat, membuat kita mau dan mampu mengikuti petunjuk Tuhan yang Maha Tahu, jalan mana yang terbaik bagi kita untuk selamat dan bahagia. Itulah live tunning, hidup pada jalan Allah. Di hadapan Allah kita diajak untuk tidak sok tahu, tetapi selalu mempunyai telinga yang siap mendengarkan, hati yang siap menerima, budi yang siap mencerna dan mulut yang siap berkata, “aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu”. Sikap itu akan menjadi kebiasaan untuk selalu fokus kepada Allah, sehingga dengan hati-hati kita bertindak sesuai dengan nasehatNya. Kalau biasa mendengarkan nasehat Tuhan, lama kelamaan kita mengerti jalan mana yang paling baik, jalan Tuhan mana yang harus dipilih. Intuisi pastoral dan spiritual tumbuh, nurani moral dan sosial berkembang, hingga kita bertindak dengan cepat dan tepat, sesuai dengan kehendakk Allah. Tanpa doa nang-ning-nung, tenang-hening-renung, memberi kesempatan Tuhan berbicara, dan mencari kesempatan untuk membaca Kitab Suci, bagaimana mungkin kita mendengarkan nasehatNya untuk melakukan yang baik dan menjauhi yang jahat. Hingga apa yang kita rindukan : hidup penuh sukacita dalam Tuhan dapat kita alami kini dan nanti.


0 komentar:

Post a Comment