January 23, 2022

RENUNGAN HARIAN, SENIN 7 FEBRUARI 2022

Kalender Liturgi Senin 7 Feb 2022

Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  1Raj 8:1-7.9-13
Setelah Rumah Allah selesai dibangun, Raja Salomo memerintahkan para tua-tua Israel dan semua kepala suku, yakni para pemimpin keluarga Israel, berkumpul di hadapannya di Yerusalem, untuk mengangkut tabut perjanjian Tuhan dari kota Daud, yaitu Sion. Maka pada hari raya di bulan Etanim, yakni bulan ketujuh, berkumpullah di hadapan raja Salomo semua orang Israel. Setelah semua tua-tua Israel datang, imam-imam mengangkat tabut itu. Mereka mengangkut tabut Tuhan dan Kemah Pertemuan serta segala barang kudus yang ada dalam kemah itu; Semuanya itu diangkut oleh imam-imam dan orang-orang Lewi. Sedangkan Raja Salomo dan segenap umat Israel yang sudah berkumpul di hadapannya, berdiri bersama-sama dengan dia di depan tabut itu, dan mempersembahkan kambing domba dan lembu sapi yang tidak terhitung dan tidak terbilang banyaknya. Kemudian imam-imam membawa tabut perjanjian Tuhan itu ke tempatnya, yakni di ruang belakang rumah itu, di tempat maha kudus, tepat di bawah sayap kerub-kerub. Sebab kerub-kerub itu mengembangkan kedua sayapnya di atas tempat tabut itu, sehingga kerub-kerub itu menudungi tabut serta kayu-kayu pengusungan dari atas. Dalam tabut itu tidak ada apa-apa selain dari kedua loh batu yang diletakkan Musa ke dalamnya di gunung Horeb, yakni loh-loh batu bertuliskan perjanjian yang diadakan Tuhan dengan orang Israel pada waktu perjalanan mereka keluar dari tanah Mesir. Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, turunlah awan memenuhi rumah Tuhan, sehingga oleh karena awan itu,  imam-imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian sebab kemuliaan Tuhan memenuhi rumah itu. Pada waktu itu berkatalah Salomo, "Tuhan telah menetapkan matahari di langit, tetapi Ia memutuskan untuk diam dalam kekelaman. Sekarang aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya."
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan Mzm 132:6-7.8-10
Bangunlah, ya Tuhan, dan pergilah ke tempat peristirahatan-Mu.
*Dengarlah! Kami dengar tabut itu ada di  di Efrata, kami telah mendapatinya di padang Yaar.
"Mari kita pergi ke tempat kediaman-Nya, dan sujud menyembah pada tumpuan kaki-Nya."
*Bangunlah, ya Tuhan, dan pergilah ke tempat peristirahataan-Mu, Engkau serta tabut kekuasaan-Mu! Biarlah imam-imam-Mu berpakaian kebenaran, dan biarlah bersorak-sorai orang-orang yang Kaukasihi!
Demi Daud, hamba-Mu, janganlah Engkau menolak orang yang Kauurapi!

Bait Pengantar Injil Mat 4:23
Yesus mewartakan kerajaan Allah dan menyembuhkan semua orang sakit.

Bacaan Injil  Mrk 6:53-56
Pada suatu hari  Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret  dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. Ke mana pun Yesus pergi, - ke desa-desa, ke kota-kota atau ke kampung-kampung -, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.
Demikianlah sabda Tuhan. 

Renungan.

Peristiwa yang diceritakan dalam Injil hari ini (Mrk 6:53-56) sebenarnya merupakan peristiwa Yesus yang sudah biasa. Mengapa? Karena setiap saat Yesus dikejar kejar oleh banyak orang dan diminta untuk menyembuhkan. Namun, jika kita cermati ada hal hal yang menarik. Dikatakan “ Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. “  (ay 54)  ini hal yang luar biasa, Pasalnya ketika melihat Yesus , mereka segera mengenal-Nya. Memang tidak dijelaskan sejauh mana pengenalan mereka terhadap Yesus, tetapi selanjutnya dikatakan bahwa mereka hanya minta menjamah jumbai jubah-Nya saja supaya mereka beroleh kesembuhan. Kalimat ini mau menegaskan bahwa mereka sungguh sungguh mengenal Yesus dan mengimani-Nya sehingga mereka percaya bahwa Yesus dapat menjawab kebutuhan mereka.  Dalam keseharian, kita pasti berjuang untuk mengenal Yesus yang belum pernah kita lihat, dan kita jatuh bangun untuk mengenal Dia. Tidak cukup kita mengenal dalam pengertian akal budi. Kita membutuhkan iman  yang membawa kita untuk mengenal Dia yang sesungguhnya. St. Paulus mengajak kita untuk mengenal Yesus dan kuasa kebangkitan-Nya. (Fil  3:10). Secara khusus Paus Fransiskus mengajak kita untuk mengenal Pribadi Yesus yang penuh kasih, sebuah kasih yang diberikan secara cuma cuma . Relasi yang penuh kepekaan terhadap orang orang yang mendekati-Nya. Tanda tanda yang Dia kerjakan, terutama dalam menghadapi orang orang berdosa, miskin, sakit dan menderita, semua mengajarkan tentang kerahiman-Nya. Segala sesuatu dalam diri-Nya berbicara tentang kerahiman. Tidak ada satupun dalam diri-Nya tanpa belas kasihan. Yesus melihat kerumunan orang orang yang mengikuti-Nya sudah lelah dan letih ,  tersesat  dan tanpa panduan, dan Ia merasakan belas kasihan yang mendalam terhadap mereka. (bdk. Mat 9:36) . Atas  dasar kasih yang penuh belas kasihan ini, Ia juga menyembuhkan orang orang sakit yang dibawa kepada-Nya (bdk. Mat 14:14)  Mengenal Yesus sebagai pribadi yang penuh belas kasihan akan menuntun kita untuk memiliki hati yang sama dengan Yesus. Inilah yang diharapkan dari Gereja  agar semakin banyak orang yang beroleh keselamatan.

Butir permenungan.

Dalam sebuah ibadat adorasi yang disertai prosesi Sakramen Mahakudus, seorang imam terkagum-kagum menyaksikan sikap umatnya. Ada yang mengungkapkan rasa hormat dengan berlutut tanpa alas. Ada yang membungkuk, dan ada juga yang memegang ujung kasula atau velum yang dipakai sang imam, persis seperti yang digambarkan dalam Injil pada hari ini. Dalam tradisi Perjanjian Lama, imam-imam mempunyai tugas mengangkat dan mengangkut tabut perjanjian Tuhan ke tempat-tempat yang dikhususkan dalam upacara keagamaan mereka. Tabut perjanjian merepresentasikan Allah sendiri yang ada di tengah-tengah mereka. Perjanjian Baru menghadirkan Yesus sebagai Allah yang hidup di tengah dan bersama jemaatnya. Maka, ke mana pun Ia pergi, ke situ pulalah orang berbondong-bondong datang dan memohonkan mukjizat keselamatan. Janganlah kita memandang praktik keagamaan secara sempit, sekadar hitam-putih dan kasat mata. Ada ”peristiwa iman” di balik berbagai sikap itu. Bukan tabut perjanjian yang dihormati. Bukan pula kasula atau velum yang disentuh yang menyembuhkan orang sakit. Namun, iman yang diaktualisasikan dalam sikap liturgislah yang telah menyelamatkan dan memerdekakan kita dari belenggu dosa dan kelemahan.

 

Doa

Hati Yesus  yang Mahakudus, aku mengarahkan diriku pada Hati Mu yang Mahakudus. Kuasailah seluruh kepribadianku, ubahlah aku menjadi seperti Engkau. Jadikan tanganku tangan Mu, kakiku kaki Mu, hatiku hati Mu, izinkanlah aku melihat dengan mata Mu, mendengar dengan telinga Mu, berkata kata dengan bibir Mu, mengasihi dengan hati Mu, memahami dengan pikiran Mu, melayani dengan kehendak Mu, dan mengabdikan seluruh kepribadianku. Jadikan aku serupa dengan Engkau. Amin

 

 

 

 

 

Yesus mewartakan kerajaan Allah dan menyembuhkan semua orang sakit.

 

0 komentar:

Post a Comment