January 28, 2022

RENUNGAN HARIAN, MINGGU 13 FEBRUARI 2022

Kalender Liturgi Minggu 13 Feb 2022

Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I  Yer 17:5-8
Beginilah firman Tuhan, "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari Tuhan! Seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah gersang di padang gurun, di padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia seperti pohon yang ditanam di tepi air,
yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan tidak mengalami datangnya panas terik; ia seperti pohon yang daunnya tetap hijau,  yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan  Mzm 1:1-2.3.4.6
Berbahagialah orang yang menaruh kepercayaan pada Tuhan.
*Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan kaum pencemooh; tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan, dan siang malam merenungkannya.
*Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, dan daunnya tak pernah layu; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
*Bukan demikianlah orang-orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiup angin. Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Bacaan II  1Kor 15:12.16-20
Saudara-saudara, jika kami wartakan bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Sebab andaikata benar bahwa orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaanmu, dan kamu masih hidup dalam dosamu. Dengan demikian binasa pulalah orang-orang yang meninggal dalam Kristus. Dan jikalau kita berharap pada Kristus hanya dalam hidup ini, maka kita ini orang-orang yang paling malang dari semua manusia. Namun ternyata Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari antara orang-orang yang telah meninggal dunia.
Demikianlah sabda Tuhan.

Bait Pengantar Injil Luk 6:23ab
Bersukacita dan bergembiralah, sabta Tuhan, sebab besarlah ganjaranmu di surga.

Bacaan Injil  Luk 6:17.20-26
Sekali peristiwa Yesus turun dari sebuah bukit bersama dengan kedua belas rasul, dan berhenti pada suatu tempat yang datar. Di situ berkumpul sejumlah besar murid-murid-Nya dan banyak orang lain  yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem, dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata, "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang kini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, bila demi Anak Manusia kamu dibenci, dikucilkan dan dicela serta ditolak; bersukacitalah dan bergembiralah pada waktu itu, sebab sesungguhnya besarlah ganjaranmu di surga. Karena secara itu pula nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai orang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburan. Celakalah kamu yang kini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu yang kini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu, karena secara itu pula nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."
Demikianlah sabda Tuhan. 

Renungan.

Sabda bahagia dan peringatan akan celaka menjadi tawaran bagi kehidupan kita pada hari ini. Apa yang sudah menjadi kemajuan dalam pengolahan hidup rohani  harian kita selama Bulan Kitab  Suci ini? Ungkapan dan undangan bahagia sekaligus peringatan akan celaka manakala kita tidak hidup sebagaimana dikehendaki  Yesus Sang Junjungan , menjadi deret peringatan dan pernyataan penuntun bagi hidup harian . Apa yang telah kita capai sebagai sebuah kemajuan rohani?  Santo Paulus memberi  makna untuk kemajuan rohani kita melalui pengendalian diri serta sikap yang selalu berbahagia .  Hidup didunia ini tidk lama lagi dan bukan hal yang kekal. Bagaimana kita akan atau telah mewujudkan kebahagiaan ? Apa yang menjadi ukuran kebahagiaan? Santo Paulus mengundang kita untuk tidak menjadi marah dan selalu bergembira berada dalam posisi hidup kita masing masing dan mengarahkan hidup kita pada yang sejati , bukan yang sementara. Bagaimana caranya?  Kita menikmati pengalaman hidup harian dengan bekerja , bertetangga, dan melaksanakan  tugas hidup harian. Saya kagum dengan umat yang dengan pelbagai cara mengungkapkan ketekunan dalam mewujudkan iman kepercayaan Katolik, selalu mengajak anak anak aktif dalam berbagai kegiatan Gereja, dan juga sebagai orang tua aktif dalam kegiatan kampung. Apabila ada permasalahan yang terjadi dikampung , beberapa umat Katolik yang sudah tua dan atau dituakan dikampung, dimintai tanggapan dalam memcari jalan keluar. Sanak saudara yang aktif dalam kepengurusan Dewan Paroki  menyadari bahwa keterlibatan dalam Dewan Paroki  tidak cukup kalau hanya sejauh punya waktu sisa setelah kerja kantoran.  Dengan pelbagai cara , mereka menyatakan bahwa keterlibatan dalam kepengurusan Dewan merupakan komitmen hati dan budi , bahkan juga merelakan  kenyamanan keluarga ketika harus rapat rutin diparoki atau untuk menghadiri berbagai  undangan keterlibatan di tingkat kevikepan , bahkan Keuskupan.

Butir permenungan.

Hidup sebagai orang Kristiani adalah kehidupan sebagai manusia baru. Kekhasan manusia itu ialah selalu berfikir  dan bertindak menurut ukuran Tuhan  Yesus Kristus. Sabda bahagia dan sabda celaka pada Injil Lukas hari ini menjadi ukurannya.  Yang disebut  bahagia ialah orang yang hidupnya selalu untuk orang lain, berkorban, bermati raga, rela menanggung penderitaan karena menjadi murid Kristus. Sedangkan yang celaka, ialah orang yang tahunya  mencari enaknya sendiri , mau maunya sendiri, memikirkan kepentingannya sendiri. Bukankah mengumpat,  marah, memfitnah dsb itu merupakan ekspresi dari orang yang mencari enaknya dan mau maunya sendiri. Diceritakan bagaimana Yesus bersama keduabelas muridnya turun dan bertemu dengan sejumlah besar pengikutnya dan orang-orang lain di “tempat yang datar”. Tempat ini disebut untuk mengingatkan orang kepada bagian Injil Lukas yang mengutip Yes 40:3-5, yakni Luk 3:4-6, tentang tanah yang tinggi rendah yang akan diratakan dan jalan yang berkelok-kelok yang akan diluruskan  sehingga orang-orang melihat Tuhan. Di tempat datar seperti inilah menurut Lukas orang-orang kini mendapati Yesus. Ke sanalah mereka berdatangan dari “Yudea dan Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon” (Luk 6:17). Kedua daerah yang disebut terakhir ini bukan wilayah Israel dulu. Tetapi Yesus mengumpulkan yang umat baru ke tempat datar – tempat Tuhan kelihatan itu – itu. Dan semua orang dapat memandanginya, bukan hanya mereka yang termasuk umat Perjanjian Lama saja. Seruan Yes 40:3-5 itu dikutip dalam Luk 3:4-6 yang juga menjelaskan pewartaan Yohanes Pembaptis mengenai “tobat untuk pengampunan dosa”. Bertobat diterangkan sebagai upaya menanggalkan pikiran-pikiran yang mengekang batin (=”tanah tinggi rendah dan jalan berkelok-kelok”) dan membiarkan diri dipimpin menuju Tuhan sendiri di jalan batin yang lurus. Kini dalam Luk 6:20-26 ditampilkan gambaran mengenai kenyataan hidup dalam umat yang baru itu dengan memakai empat Sabda Bahagia (ayat 20-23) dan empat peringatan untuk berwaspada (ayat 24-26). Orang dapat menggambarkan suatu hal sebagaimana adanya. Bisa pula orang mengatakan apa yang mesti dijalankan.  Sabda Bahagia dalam Injil menggambarkan apa yang terjadi dalam kalangan orang-orang yang hidup mengikuti Yesus, bukan mengajarkan hal-hal yang mesti dilakukan. Dengan perkataan lain, Sabda Bahagia itu ungkapan yang sifatnya deskriptif, bukan preskriptif. Mungkin ada yang berkeberatan, Sabda Bahagia dan peringatan-peringatan itu kan pengajaran yang mesti diikuti agar masuk Kerajaan Allah?  Bukan! Keliru bila Sabda Bahagia dan peringatan ditangkap sebagai resep hidup bahagia, hidup kristen yang baik-baik, aman adem ayem, ikut ajaran agama saja supaya semua tenang, kalau menderita ya menderita tapi nanti beres. Begitu hidup beragama jadi kekangan, bukan pemerdekaan batin. Injil Lukas hendak berbicara kepada orang yang miskin, yakni orang yang kekurangan material, orang yang tak bisa mencukupi kebutuhan hidup, paling-paling pas-pasan saja.  Tetapi Injil juga berbicara kepada orang berkepunyaan, orang yang berkelebihan, orang yang tak merasakan kekurangan. Kepada yang miskin dikatakan bahwa mereka tak dilupakan Kerajaan Allah, mereka itu malah boleh merasa empunya Kerajaan Allah.  Kepada orang kaya tidak dikatakan kalian tak memiliki Kerajaan Allah. Namun kehidupan mereka itu kiranya tak ada artinya (“celakalah….”) bila mereka sudah puas dan merasa aman dengan kelimpahan mereka. Wartanya apa? Yesus tidak menjajakan kemiskinan sebagai keutamaan dan mencerca kekayaan sebagai sumber laknat. Seandainya begitu, wartanya akan segera basi, tak berbeda dengan retorika orang-orang yang membuat orang miskin sebagai komoditi dagang politik dan yang menjadi parasit orang berduit dan memperoleh ketenaran sebagai pembela kaum miskin dengan gampang. Warta  Sabda Bahagia itu, sebagaimana lazimnya warta gembira, membuat orang bisa berharap akan merdeka sekalipun masih terbelit kemiskinan atau terjerat ikatan-ikatan kekayaan.  Penjelasannya begini. Kemiskinan yang membuat orang makin melarat atau kekayaan yang membuat orang lupa daratan menjadi karikatur martabat manusia yang tak lucu, malahan membuat orang pilu.  Tuhan yang Maha Rahim tak tahan melihat manusia ciptaanNya merosot. Maka Kerajaan Allah yang diwartakan utusanNya yang utama itu – Anak Manusia – dimaksud untuk membangun wahana di mana manusia bisa menata kembali martabatnya yang utuh, tidak lusuh karena kemelaratan atau busuk tertimbun kekayaan.

Doa

Allah Bapa sumber pengharapan, Engkau telah mengikat perjanjian dengan semua orang melalui Yesus yang terurapi. Semoga kami selalu berpegang teguh pada Dia dan berkembang menjadi umat yang patuh setia. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

Bersukacita dan bergembiralah, sabta Tuhan, sebab besarlah ganjaranmu di surga.

 

0 komentar:

Post a Comment