April 21, 2022

RENUNGAN HARIAN, KAMIS PASKAH II 28 APRIL 2022

Kalender Liturgi Kamis 28 Apr 2022

PF S. Ludovikus Maria Grignion de Montfort, Imam
PF S. Petrus Chanel, Imam dan Martir
Warna Liturgi: Putih

Bacaan I  Kis 5:27-33
Pagi itu kepala pengawal bait Allah serta orang-orangnya menangkap para rasul yang sedang mengajar orang banyak dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama Yahudi. Imam Besar lalu mulai menegur mereka,  "Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama Yesus. Namun ternyata kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu, dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami."  Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia." Mendengar perkataan itu sangatlah tertusuk hati mereka, dan mereka berusaha membunuh rasul-rasul itu.
Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan Mzm 34:2.9.17-18.19-20
Orang yang tertindas berseru, dan Tuhan mendengarkan.
*Aku hendak memuji Tuhan setiap waktu; puji-pujian kepada-Nya selalu ada di dalam mulutku. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu!
Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!
*Wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan akan mereka dari muka bumi. Apabila orang benar itu berseru-seru, Tuhan mendengarkan; dan segala kesesakannya mereka Ia lepaskan.
*Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu.

Bait Pengantar Injil  Yoh 20:29
Karena telah melihat Aku, engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.

Bacaan Injil  Yoh 3:31-36
Yohanes Pembaptis memberi kesaksian tentang Yesus  di hadapan murid-muridnya, "Siapa yang datang dari atas ada di atas semuanya;
siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari surga ada di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya, ia mengaku bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya."
Demikianlah sabda Tuhan. 

Renungan.

Istilah “saksi” itu berasal dari dunia pengadilan. Dalam suatu pengadilan ada saksi yang memberatkan dan ada saksi yang meringankan. Saksi yang memberatkan tentu saja membuat terdakwa akan dijatuhi hukuman. Sebaliknya saksi yang meringankan akan membuat terdakwa dikurangi hukumannya atau malah bebas sama sekali.  Kedua bacaan hari ini mewartakan juga soal saksi atau kesaksian ini. Petrus dan rasul rasul ditangkap dan dihadapkan kemuka Mahkamah Agama Yahudi, ini suatu pengadilan . Para rasul diperintahkan untuk diam dan tidak mengajar dalam nama Yesus. Para rasul tenang saja. Meski para rasul yang disidang , tetapi sebenarnya Tuhan Yesus yang disidang. Mengapa? Karena intinya para pemimpin Yahudi itu melawan dan menolak Yesus. Para rasul tampil sebagai saksi , tentu saja yang meringankan Yesus. Pada Injil , Yohanes Pembaptis juga memberikan kesaksian tentang Yesus . Dia itu saksi yang meringankan juga. Suka tidak suka , mau tidak mau, kita semua adalah saksi Kristus bagi masyarakat kita. Soalnya adalah apakah kita ini saksi yang memberatkan atau saksi yang meringankan. Bila kita suka jaim alias jaga imej, gampang melukai orang, tidak ramah, pendendam, mau menangnya  sendiri, pelit alias tidak murah hati, nah kita ini saksi Kristus yang memberatkan alias merepotkan Tuhan Yesus, Namun apabila kita ramah dan suka menolong sesama, suka mengampuni, suka menyapa orang dengan tulus, murah hati dan selalu peduli kepada sesama tanpa membeda bedakan , kita telah menjadi saksi yang meringankan. 

Butir permenungan.

Kita semua diciptakan oleh Allah, berasal dari Allah atau sorga dan harus kembali kepada Allah atau sorga setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Agar kita setelah dipanggil Tuhan nanti langsung kembali hidup mulia di sorga, maka selama hidup di dunia ini hendaknya senantiasa hidup dan bertindak sesuai kehendak Allah, antara lain senantiasa berbahasa atau bertindak dalam dan oleh kasih.  Rasanya tidak sulit hidup dan bertindak dalam atau oleh kasih jika masing-masing dari kita menyadari dan menghayati bahwa kita diciptakan dalam dan oleh kasih serta dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya saat ini hanya karena kasih dan oleh kasih, atau masing-masing dari kita adalah ‘yang terkasih’ atau ‘buah kasih’. Kasih mengatasi semuanya, mendasari semuanya, itulah kebenaran sejati yang tak dapat disangkal. Maka jika dalam hidup di dunia ini, dalam berpatisipasi dalam seluk-beluk duniawi atau pengelolaan harta benda duniawi kita harus menghadapi masalah atau tantangan hendaknya dihadapi dan disikapi dalam dan dengan kasih.  Bahasa kasih itu antara lain sebagaimana dikatakan oleh Paulus, yaitu “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”(1Kor 13:4-7) . Kita semua dipanggil untuk menjadi saksi kasih dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun, sebagai penghayatan iman bahwa kita berasal dari Allah dan harus kembali kepada Allah, karena Allah sendiri adalah kasih. "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” (Kis 5:29), demikian tanggapan Petrus dan para rasul ketika mereka dilarang berbicara perihal Allah atau Yesus Kristus yang diimaninya. Apa yang dikatakan Petrus dan para rasul ini kiranya dapat menjadi acuan atau pedoman cara hidup dan cara bertindak kita. Secara konkret di dalam hidup atau kerja sehari-hari hendaknya lebih mengikuti kehendak baik serta menghormati dan menjunjung mereka yang lebih dekat dengan Allah alias lebih suci. Jika kita cermati atau perhatikan rasanya anak-anak lebih suci daripada orangtua, para peserta didik atau murid lebih suci daripada para pendidik / guru, yang muda lebih suci daripada yang tua, dst.. mengingat dan mempertimbangkan tambah usia dan pengalaman pada umumnya orang juga bertambah dosanya. Maka ketaatan kita kepada Allah hemat saya antara lain dapat kita wujudkan dengan memberi perhatian atau mengasihi anak-anak, peserta didik / murid atau yang lebih muda secara memadai. Tanda bahwa anak-anak, peserta didik / murid atau yang muda menerima kasih dan perhatian yang memadai adalah mereka akan tumbuh berkembang menjadi lebih suci, lebih cerdas, lebih pandai dan bijak daripada orangtua, pendidik / guru atau yang tua. Sebaliknya jika genenasi penerus ini lebih brengsek atau jelek dari generasi pendahulu, berarti generasi pendahulu lebih taat kepada manusia daripada taat kepada Allah, atau hidup dan bertindak menurut selera pribadi, seenaknya sendiri, ‘semau gue’, sak penake wudhele dewe. Dengan kata lain orang lebih cenderung mengupayakan kenikmatan sesaat atau sementara daripada yang berlangsung lama atau abadi. Maka marilah kita mawas diri: apakah saya lebih taat kepada Allah daripada manusia, atau lebih taat kepada manusia daripada Allah. Taat kepada Allah juga dapat kita wujudkan dengan mentaati dan melaksanakan aneka macam tatanan dan aturan yang terkait dengan hidup dan panggilan serta tugas pengutusan kita masing-masing.

Doa.

Ya Tuhan yang maharahim, bantulah kami umat-Mu agar menghasilkan buah buah Roh Kudus dalam kehidupan kami sehari hari. Amin.

 

 

 

 

Karena telah melihat Aku, engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya

0 komentar:

Post a Comment